why wont people do some living thing to refuse their untruly life?
Senin, 2009 Juni 22

Inuyasha Mengkritik ‘Bunuh Diri Kelas’

Baru banget nonton film kartunnya Inuyasha. Serial movienya di salah tv swasta yang sering memutar acara khusus anak-anak. Walaupun sih pangsa pasar anak-anak tapi program diputar paling sering saya nyalakan ditengah ketidakinginanku menonton tv. Kembali ke pembahasan tentang Inuyasha.

Menurut temanku yang hampir setahun hidup di negeri sakura, mengikuti pertukaran pelajar. Dalam bahas Jepang, kata “Inu” memiliki arti “Anjing”. Jadi, Inuyasha adalah seorang siluman anjing yang hidup di masa lalu. Namun karena suatu kutukan yang didapatkannya, Inuyasha bukanlah seorang siluman sejati. Ia hanyalah manusia setengah siluman yang masih memiliki perasaan sebagai sorang manusia. Salah satu cara untuk menjadi siluman sejati adalah dengan merebut “Shikon No Tama”-batu kristal keramat—milik Kikyo, seorang pendeta wanita. Dalam pertarungannya dengan Kikyo, Inuyasha akhirnya mengalami kekalahan yang menyakitkan. Sehingga akhirnya tersegel selama 50 tahun di bawah pohon keramat. Lebih buruk lagi, pertempurannya dengan Kikyo mengakibatkan Shikon No Tama itu hancur berkeping-keping.

Pada Lanjutan ceritanya, seorang gadis bernama Higurashi Kagome dari masa modern secara tidak sengaja terbawa ke zaman di mana Inuyasha berada. Kagome pun melepaskan segel Inuyasha dan membebaskannya. Setelah bebas, Inuyasha pun menjalani hukuman untuk mengumpulkan kembali pecahan Shikon No Tama, dibantu oleh Kagome. Maka, dimulailah petualangan Inuyasha untuk mengumpulkan pecahan Shikon No Tama yang telah dikuasai oleh banyak siluman.

Menceritakan Inuyasha sih tidak ada beda dengan baca komik jika tidak dihubungkan dengan dunia modern ini. Mencari relevansi antara alur cerita dari anime Inuyasha dengan peradaban yang kita lalui hari ini. Kalau kisah klasik Inuyasha itu diceritakan pada masa Heian.
Zaman Heian (794 - sekitar 1185) adalah salah satu zaman dalam pembagian periode sejarah Jepang yang berlangsung selama 390 tahun, Dalam cerita pada masa yang dilalui inuyasha ada dua kelas yang bertarung sepanjang masa yakni Siluman dan manusia. Hari ini masa yang kita lalui menurut Karl Marx, sejarahnya aadalah pertentangan kelas antara borjuasi dan proletar.
Kalau Marx mengambarkan bahwa kelas Majikan itu adalah kelas pengisap yang ingin mengusasi dunia. Sedangkan kelas pekerja mereka yang selama ini ditindas dari buruknya tatanan sosial hari ini. Dari gambaran yang dilalui oleh Inuyasha bahwa siluman itu bisa digambarkan sebagai Borjuasi sedangkan manusia deskripsinya sebagai proletar.

Tokoh Inuyasha ini yang menjadi sangat menarik karena adalah manusia setengah siluman. Dia memiliki kesaktian seperti siluman kebanyakan, pun hasratnya sebagai manusia juga ada. Kalau dalam peradaban kali ini Inuyasha merupakan kelas menengah (mungkin buruh kerah putih, atau mahasiswa) yang mendapat akses dari kemudahan dari tatanan yang dikuasai oleh Borjuasi. Misal kalau Inuyasha dalam tatanan kapitalisme hari ini itu buruh kerah putih yang mendapat kemudahan akses ekonomi dari keadaan yang dia jalani. Bahkan kalau dia mahasiswa, dia akan mendapatkan akses informasi yang lebih. Kalau Inuyasha pada masa sekarang dan berjuang membela kaum proletar maka dari istilah gerakan kiri inuyasha akan dianggap “bunuh diri kelas”. Pertanyaannya kembali, apakah ada itu bunuh diri kelas? Kalau kembali ke pembahasan Inuyasha, maka jawaban bahwa dia juga tidak meninggalkan dirinya sebagai seekor siluman sedangkan dia juga tidak berniat melakukan pembebasan terhadap umat manusia dari kendali siluman. Inuyasha hanya mempunyai hasrat untuk bertarung dengan lawan yang lebih kuat. Kalau dalam dalam peradaban modern bisa disebut hasrat dekonstuktif. Apakah yang dilakukan Inuyasha itu tidak bermanfaat? Ternyata tidak, pertarungan Inuyasha dengan kekuatan siluman demi memenuhi hasratnya ternyata membebaskan manusia dari pengekangan yang dilakukan oleh siluman. Walau manusia setengah siluman tidak pernah ingin membebaskan manusia dari penindasan siluman.

Kisah Inuyasha mungkinkah relevan dengan yang terjadi di Yunani? Pemberontakan para kelas menengah di yunani hingga hari ini. Apakah yang dilakukan para Insurgen yang sebagian besar mahasiswa di yunani itu demi para proletar. Penghancuran property, penyerangan polisi itu untuk membebaskan kelas pekerja. Ataukah hanya untuk memenuhi hasrat dekonstruktifnya. Kalau pun itu ke depanya menjadi ajang pembebasan untuk kelas pekerja, kenapa tidak? Memuaskan Hasrat adalah hal yang terpenting dengan meninggalkan slogan usang tentang “Bunuh diri kelas”.

Dalam salah satu adegan inuyasha bersama seorang anak setengah siluman dari pulau hore yang terpanggang di Tungku pembakar jiwa didatangi oleh jiwa pendeta wanita. Dia akan diberikan kekuatan oleh pendeta wanita itu, asalkan mau membebaskan anak-anak itu dari kekuasaan siluman yang menguasai pulau hore. Inuyasha tidak mau membebaskan anak itu tapi dia hanya mau bertarung dengan Siluman penguasa pulau. “Takdir anak-anak tersebut ditentukan oleh mereka sendiri”,lanjutnya. Setelah anak yang ditemaninya dalam tungku siuman, lalu berkata “Aku masih hidup”. “Kamu tidak perlu izin siapa-siapa untuk hidup”, balas Inuyasha. Penyerahan otoritas yang dilakukan oleh Siluman Anjing ini terhadap kepada setiap individu untuk menetukan hidupnya adalah sebuah kritik tersendiri kepada para Martir dan Patriotisme revolusioner hari ini, yang merasa berhak mengatur hidup orang-orang yang pernah dianggapnya dibebaskan didupnya. Walau itu hanya ilusi.


(by Subcomandante Irsyanomics)

Label:

Sabtu, 2009 Maret 21

BERBAHAYANYA IDEOLOGI KIRI

Karena kebutuhan mereka untuk memberontak dan keanggotaan dalam sebuah gerakan, kaum Kiri atau orang-orang yang memiliki tipe psikologis yang mirip seringkali tak tertarik pada sebuah gerakan pemberontakan atau pada para aktifis yang memiliki tujuan-tujuan dan syarat keanggotaan yang tak dapat dikategorikan Kiri. Hasil dari perilaku tipe-tipe Kiri ini yaitu bahwa mereka dapat dengan mudah menggeser gerakan non-Kiri menjadi gerakan Kiri, sehingga tujuan-tujuan kaum Kiri tersebut akan mengganti atau mendistorsikan tujuan-tujuan gerakan tersebut.

Untuk menghindari hal ini, sebuah gerakan yang memuliakan alam dan menentang teknologi harus memiliki sikap anti-Kiri dan menghindari kolaborasi apapun dengan para kaum Kiri. Ideologi Kiri dalam jangka panjangnya bersikap tak konsisten dengan alam liar, dengan kebebasan manusia dan dengan pengeliminiran teknologi modern. Ideologi Kiri adalah kolektifis; ia berusaha mempersatukan seluruh dunia (baik alam maupun ras manusia) ke dalam satu kesatuan yang menyeluruh. Tetapi hal ini akan berdampak pada pengaturan alam dan hidup manusia oleh masyarakat yang terorganisir, dan hal tersebut membutuhkan teknologi maju. Engkau tak akan dapat memiliki sebuah dunia yang bersatu tanpa adanya transportasi dan komunikasi yang gencar, engkau tak dapat membuat semua orang saling mencintai tanpa adanya teknik-teknik psikologis yang mapan, engkau tak akan dapat memiliki sebuah “masyarakat yang terencana” tanpa mendasarinya dengan teknologi. Dalam kesimpulannya, ideologi Kiri digerakkan oleh kebutuhan akan kekuasaan, dan kaum Kiri mengupayakan kekuasaan dalam basis kolektif, melalui pengidentifikasian dengan sebuah gerakan massa atau sebuah organisasi. Ideologi Kiri biasanya tak akan menentang teknologi, karena teknologi adalah sebuah sumber daya yang sangat berguna bagi pendukung kekuasaan kolektif.

Seorang anarkis juga mengupayakan kekuasaan, tetapi ia mengupayakannya dalam basis individual atau kelompok kecil; ia ingin agar para individual dan kelompok-kelompok kecil mampu mengontrol keadaan hidup mereka sendiri. Ia menentang teknologi karena hal tersebut membuat kelompok-kelompok kecil jadi sangat tergantung pada organisasi besar.

Beberapa dari kaum Kiri mungkin akan menentang teknologi, tetapi mereka akan menentangnya sepanjang mereka tidak menjadi bagian di dalamnya dan sistem teknologi tidak berada di bawah kontrol kaum Kiri. Apabila ideologi Kiri menjadi dominan di tengah masyarakat, maka sistem teknologi akan menjadi sebuah alat di tangan kaum Kiri, mereka akan menggunakannya dengan antusias dan mempromosikan pertumbuhannya. Dalam melakukannya mereka akan mengulangi kembali alur yang dilakukan oleh kaum Kiri sebelumnya. Saat Bolshevik di Russia masih berada di luar masyarakat, mereka luar biasa menentang badan sensor dan polisi rahasia, mereka menyokong hak-hak kaum etnis minoritas untuk menentukan nasibnya sendiri, dan demikian seterusnya; tetapi begitu mereka mendapatkan kekuasaan bagi diri mereka sendiri, mereka menerapkan penyensoran yang lebih ketat dan menciptakan sebuah badan polisi rahasia yang lebih tak punya rasa kasihan dibandingkan dengan yang pernah eksis di bawah kekuasaan Tsar, dan mereka juga mulai menindas kaum etnis minoritas kurang lebih sama seperti yang dilakukan oleh Tsar. Di Amerika Serikat, beberapa dekade ke belakang saat kaum Kiri menjadi minoritas di universitas-universitas kita, para profesor Kiri adalah pendukung yang luar biasa atas kebebasan akademik, tetapi dewasa ini, di universitas-universitas di mana kaum Kiri menjadi dominan, mereka memperlihatkan bagaimana diri mereka siap mengambil kebebasan akademik dari setiap orang. (di sana hal ini dikenal sebagai “political-correct”). Hal yang sama akan terjadi dalam konteks kaum Kiri dan teknologi: mereka akan menggunakannya untuk menindas siapapun apabila mereka berhasil mendapatkan kontrol atasnya.

Dalam revolusi-revolusi sebelumnya, kaum Kiri dari tipe yang paling haus kekuasaan, secara berulang, adalah yang pertama melakukan kompromi dengan para revolusioner non-Kiri, sebagaimana dengan kaum Kiri yang memiliki kecenderungan lebih libertarian, dan selanjutnya mengkhianati diri mereka sendiri demi mendapatkan kekuasaan bagi mereka sendiri. Robespierre melakukan hal ini dalam Revolusi Perancis, para Bolshevik melakukannya dalam Revolusi Russia, para komunis melakukannya di Spanyol tahun 1938 dan Castro bersama para pengikutnya melakukannya di Kuba. Merunut pada sejarah ideologi Kiri, akan sangat tolol bagi para revolusioner non-Kiri dewasa ini untuk berkolaborasi dengan kaum Kiri.

Beberapa pemikir telah menunjukkan bahwa ideologi Kiri adalah sejenis agama. Ideologi Kiri memang bukan agama dalam artian baku karena doktrin kaum Kiri tersebut tidaklah berupa hasil dari eksistensi hal-hal supranatural. Tetapi bagi kaum Kiri, ideologi Kiri memainkan sebuah peran psikologis jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang dimainkan oleh agama pada para pengikutnya. Kaum Kiri PERLU meyakini ideologi Kiri; hal tersebut memainkan sebuah peranan yang sangat penting dalam ekonomi psikologisnya. Keyakinannya tak akan mudah termodifikasi oleh logika ataupun fakta. Ia memiliki sebuah pendirian yang mendalam bahwa ideologi Kiri secara moral adalah sesuatu yang Benar dengan B huruf besar, dan ia bukan saja merasa memiliki hak, melainkan juga kewajiban untuk menerapkan moralitas Kiri tersebut pada setiap orang. (Tetapi bagaimanapun juga, banyak orang yang kami golongkan sebagai “kaum Kiri” tidak merasa diri mereka Kiri dan tak akan mendeskripsikan sistem yang mereka yakini sebagai ideologi Kiri. Kami menggunakan terminologi “ideologi Kiri” karena kami tidak tahu apa kata yang lebih tepat untuk menggambarkan berbagai keyakinan yang saling berhubungan tersebut, termasuk di dalamnya kaum feminis, pendukung hak bagi kaum homoseks, kaum political-correct, dsb., juga gerakan-gerakannya, dan juga karena gerakan-gerakan tersebut memiliki kaitan yang kuat dengan ideologi Kiri lama).

Ideologi Kiri adalah kekuasaan totaliter. Di manapun juga ideologi Kiri berkuasa, ia cenderung akan menginvasi setiap sudut privat dan memaksakan setiap pikiran ke dalam sebuah cetakan Kiri. Di satu sisi hal ini terjadi karena karakter agama palsu dalam ideologi Kiri; setiap hal yang berbeda dengan keyakinan kaum Kiri adalah sesuatu yang dianggap sebagai Dosa. Lebih pentingnya lagi, ideologi Kiri adalah sebuah kekuasaan totaliter karena dorongan-dorongan kaum Kiri atas kekuasaan. Seorang Kiri berusaha memenuhi kebutuhannya akan kekuasaan melalui pengidentifikasiannya dengan sebuah gerakan sosial dan mereka berusaha untuk melalui proses penguasaannya dengan menolong gerakan di mana ia terlibat untuk meraih dan mendapatkan tujuan-tujuannya. Tetapi tak peduli seberapa jauh gerakan tersebut melangkah dalam meraih tujuan-tujuannya, seorang Kiri tak akan pernah terpuaskan, karena aktifismenya adalah aktifitas sampingan. Dengan demikian, motif sesungguhnya seorang Kiri bukanlah tujuan-tujuan ideologi Kiri yang baginya adalah kepalsuan; kenyataannya ia lebih termotifasi oleh sensasi kekuasaan yang ia dapatkan dalam perjuangan dan saat meraih sebuah tujuan sosial. Konsekuensinya, seorang Kiri tak akan pernah terpuaskan dengan tujuan-tujuan yang telah tercapai; kebutuhannya akan proses penguasaan mengarahkan dirinya untuk selalu mencapai tujuan-tujuan baru. Seorang Kiri mengingnkan kesempatan yang sama bagi kaum minoritas. Saat hal ini tercapai ia menuntut agar kaum minoritas juga meraih pencapaian yang secara statistik sama. Dan selama setiap orang di sudut pikirannya memiliki sebuah pandangan negatif terhadap beberapa minoritas, seorang Kiri akan berusaha melakukan pendidikan atasnya. Dan kaum etnis minoritas saja tidak cukup; tak seorangpun akan diijinkan untuk memiliki pandangan negatif terhadap homoseksual, orang cacat, orang gemuk, orang tua, orang jelek, dan lain-lainnya. Sekedar memberi informasi pada publik tentang bahayanya merokok; sebuah peringatan juga akan ditempelkan di setiap kemasan rokok. Maka iklan rokok akan dibatasi apabila tidak dilarang sama sekali. Para aktifis tak akan pernah merasa puas sampai seluruh tembakau dianggap barang terlarang, dan bahkan setelahnya alkohol, kemudian makanan cepat saji, dsb. Para aktifis telah memerangi tindak kekerasan terhadap anak, yang tentu memiliki alasan kuat. Tetapi kini mereka tak ingin menghentikan semua bentuk pemukulan. Saat mereka berhasil melakukannya, mereka akan mulai melarang hal lain yang mereka anggap berkaitan, kemudian hal lain lagi dan lainnya lagi. Mereka tak akan pernah terpuaskan hingga mereka memiliki kontrol penuh atas segala macam praktek membesarkan anak. Dan kemudian mereka akan terus bergerak pada hal lain.

Anggap engkau meminta kaum Kiri untuk membuat daftar SEMUA hal yang salah dengan masyarakat, maka anggap engkau telah membuat SEMUA perubahan sosial yang mereka tuntut. Bisa dikatakan bahwa dalam waktu beberapa tahun mayoritas dari mereka akan menemukan sebuah hal baru untuk dikeluhkan, beberapa “kejahatan” sosial untuk dibetulkan karena, sekali lagi, seorang Kiri tidak begitu termotifasi oleh tekanan akibat penyakit-penyakit sosial, melainkan oleh kebutuhan pemuasan dorongan kekuasaannya yang dilakukan dengan cara mengajukan berbagai solusi bagi masyarakat.

Karena beberapa aturan telah ditempatkan dalam pikiran dan kebiasaan mereka melalui sosialisasi tingkat tinggi mereka, banyak kaum Kiri dari tipe yang telah tersosialisasi secara berlebihan, tak dapat meraih kekuasaan sebagaimana yang dilakukan oleh orang lainnya. Bagi mereka, dorongan atas kekuasaan hanya memiliki satu penyaluran yang dapat diterima secara moral, dan hal tersebut yaitu perjuangan untuk menerapkan moralitas mereka pada setiap orang.

Kaum Kiri, khususnya mereka dari tipe yang telah tersosialisasi secara berlebihan, adalah True Believers (mereka yang benar-benar yakin—Ed.) seperti artian dalam buku Eric Hoffer, “The True Believers”. Tetapi tidak semua True Believer memiliki tipe psikologis yang sama dengan kaum Kiri. Ambil contoh seorang Nazi yang berkeyakinan penuh, jelas ia secara psikologis sangat berbeda dengan seorang Kiri yang berkeyakinan penuh. Karena kapasitas mereka untuk merengkuh sebuah tujuan secara sepihak, para True Believer menjadi unsur yang sangat berguna, bahkan mungkin sangat penting, bagi sebuah gerakan revolusioner. Hal ini menghadirkan sebuah masalah yang mana kami harus nyatakan bahwa kami tak tahu bagaimana cara berurusan dengan hal tersebut. Kami tidak yakin bagaimana memanfaatkan energi-energi yang dimiliki para True Believer tersebut dalam sebuah revolusi melawan teknologi. Saat ini kami hanya dapat berkata bahwa tak ada True Believer yang akan mampu direkrut ke dalam revolusi kecuali komitmen utamanya secara ekslusif adalah penghancuran teknologi. Apabila ia juga berkomitmen pada ideal-ideal lain, ia mungkin akan menggunakan teknologi sebagai alat pencapai ideal lainnya tersebut.

Beberapa pembaca mungkin akan berkata, “Tulisan mengenai ideologi Kiri ini adalah sampah. Aku tahu John dan Jane yang termasuk ke dalam tipe Kiri dan mereka tidak memiliki seluruh kecenderungan totalitarian tersebut.” Memang benar apabila banyak kaum Kiri, bahkan mungkin sejumlah besarnya, adalah merupakan orang-orang yang jujur yang benar-benar percaya dalam mentoleransi nilai-nilai orang lain (dalam beberapa poin) dan tak akan menggunakan metoda-metoda diktatorial dalam meraih tujuan resmi mereka. Kata-kata kami mengenai ideologi Kiri tidak berarti lantas dapat diterapkan pada setiap individual seorang Kiri melainkan untuk mendeskripsikan karakter umum ideologi Kiri sebagai sebuah gerakan. Dan karekter umum atas sebuah gerakan tidak selalu berarti ditentukan oleh sejumlah proporsi dari berbagai jenis orang yang terlibat dalam gerakan tersebut.

Orang-orang yang bangkit meraih berbagai posisi kekuasaan dalam gerakan-gerakan Kiri cenderung menjadi orang-orang Kiri dari tipe-tipe yang paling haus kekuasaan karena orang yang haus akan kekuasaan adalah mereka yang berjuang paling keras untuk mendapatkan berbagai posisi kekuasaan. Sekali saja tipe-tipe yang haus kekuasaan tersebut mendapatkan kontrol atas gerakan, akan banyak kaum Kiri yang terlahir dengan lebih baik yang terang-terangan tidak menyetujui banyak aksi yang dilakukan oleh para pemimpinnya, tetapi tak dapat menghadirkan diri mereka sebagai lawan bagi para pemimpin tersebut. Mereka MEMBUTUHKAN kepercayaan mereka atas gerakan, dan karena mereka tak dapat meninggalkan kepercayaannya maka mereka akan terus berjalan bersama para pemimpin mereka tersebut. Memang benar bahwa BEBERAPA orang Kiri memiliki keberanian untuk melawan kecenderungan-kecenderungan totalitarian yang muncul, tetapi umumnya mereka kalah, karena tipe-tipe yang haus kekuasaan terorganisir dengan lebih baik, lebih tak memiliki rasa kasihan dan Machiavellian serta harus berhati-hati dalam membangun basis kekuasaan yang kuat bagi diri mereka sendiri.

Fenomena-fenomena tersebut tampak dengan jelas di Russia dan beberapa negara yang berhasil diambil alih oleh kaum Kiri. Kemiripannya, sebelum runtuhnya komunisme di Republik Uni Soviet, berbagai tipe kaum Kiri di Barat jarang mengkritisi negara tersebut. Apabila terdesak mereka akan menyatakan bahwa memang Republik Uni Soviet melakukan banyak kesalahan, tetapi mereka juga akan berusaha untuk menemukan berbagai alasan bagi para komunis tersebut dan mulai berbicara mengenai kesalahan-kesalahan di Barat. Mereka selalu menentang perlawanan militer Barat terhadap agresi komunis. Berbagai tipe kaum Kiri di seluruh dunia dengan luar biasa keras, memprotes aksi militer Amerika di Vietnam, tetapi saat Republik uni Soviet menginvasi Afghanistan mereka tak melakukan apapun. Bukan karena menyetujui aksi-aksi Uni Soviet tersebut; melainkan karena kepercayaan Kiri mereka, mereka sekedar tak berani memposisikan diri mereka untuk beroposisi dengan komunisme. Dewasa ini, di universitas-universitas di mana “political correct” menjadi dominan, mungkin akan banyak tipe kaum Kiri yang secara pribadi tidak menyetujui diberlakukannya penindasan atas kebebasan akademik, tetapi mereka tetap membiarkannya terus berjalan.

Dengan demikian fakta bahwa banyak individual-individual kaum Kiri yang secara personal tenang dan merupakan orang yang sangat toleran berarti akan menghindarkan ideologi Kiri yang secara keseluruhan memiliki kecenderungan totalitarian.

Diskusi kami mengenai ideologi Kiri memiliki sebuah kelemahan serius. Masih jauh dari jelas apa yang kami maksud dengan kata “orang Kiri”. Tak banyak yang dapat kami lakukan dalam hal ini. Dewasa ini ideologi Kiri telah terpecah ke dalam sebuah spektrum besar gerakan-gerakan aktifis. Memang tidak semua aktifis gerakan tersebut adalah orang Kiri, dan beberapa aktifis gerakan (environmentalis radikal misalnya) tampaknya merengkuh kedua kepribadian baik dari tipe Kiri maupun kepribadian dari tipe yang sama sekali tidak Kiri, yang sebaiknya dikenali dengan lebih baik dibandingkan harus berkolaborasi dengan para kaum Kiri. Berbagai macam kaum Kiri secara berangsur-angsur melenyap ke dalam berbagai macam kaum non-Kiri dan kami sendiri akan sering terpaksa untuk memutuskan apakah seorang individual yang ditunjuk adalah seorang Kiri atau bukan. Atas apa yang telah kami definisikan secara keseluruhannya, konsepsi kami mengenai ideologi Kiri didefinisikan melalui diskusi-diskusi mengenainya, yang telah kami paparkan dalam artikel ini, dan kami hanya dapat menyarankan para pembaca agar memutuskan sendiri siapa yang termasuk orang Kiri.

Tetapi akan sangat membantu apabila dibuat daftar beberapa kriteria dalam mendiagnosa ideologi Kiri. Kriteria-kriteria tersebut tak dapat diaplikasikan langsung begitu saja. Beberapa individual mungkin akan cocok dengan beberapa kriteria yang bukan Kiri, sementara beberapa orang Kiri mungkin akan sama sekali tak cocok dengan kriteria apapun. Lagi, engkau harus menentukan sendiri.

Seorang Kiri memiliki orientasi menuju kolektifisme skala besar. Ia menekankan kewajiban individual dalam melayani kepentingan masyarakat dan kewajiban masyarakat untuk mengurus individual tersebut. Ia memiliki pandangan negatif terhadap individualisme. Ia seringkali mengambil sebuah alasan yang bernada moralistik. Ia cenderung mendukung kontrol senjata, pendidikan seks dan beberapa metoda pendidikan “yang mencerahkan” secara psikologis, untuk merencanakan, untuk melakukan aksi yang telah disepakati bersama, untuk multikulturalisme. Ia cenderung mengidentifikasikan dirinya dengan para korban. Ia cenderung menentang kompetisi dan kekerasan, tetapi seringkali ia menemukan alasan-alasan atas beberapa orang Kiri yang melakukan kekerasan. Ia juga gemar menggunakan frasa-frasa yang umum digunakan kaum Kiri seperti “rasisme”, “seksisme”, “homofobia”, “kapitalisme”, “imperialisme”, “neokolonialisme”, “genosida”, “perubahan sosial”, “keadilan sosial”, “tanggung jawab sosial”. Mungkin cara mendiagnosa ciri pembawaan orang Kiri adalah dengan melihat kecenderungannya dalam bersimpati terhadap beberapa gerakan berikut: feminisme, hak-hak bagi kaum homoseksual, hak-hak bagi kelompok etnis, hak-hak bagi penyandang cacat, hak-hak binatang, political-correct. Setiap orang yang dengan sangat kuat bersimpati dengan SELURUH gerakan tersebut dapat dipastikan sebagai seorang Kiri.

Orang-orang Kiri yang lebih berbahaya yaitu mereka yang paling haus kekuasaan, yang seringkali berkarakter arogan atau yang memiliki pendekatan yang dogmatik terhadap ideologi. Bagaimanapun juga, orang-orang Kiri yang paling berbahaya di atas semuanya mungkin adalah tipe-tipe yang telah tersosialisasi paling banyak yang menghindari menunjukkan agresifitas yang berlebihan ataupun mengulang-ulang mengiklankan ideologi Kiri mereka, tetapi mereka bekerja diam-diam dan tak menonjol dalam mempromosikan nilai-nilai kolektifis, teknik-teknik psikologis “yang mencerahkan” dalam mensosialisasikan anak-anak, individual yang sangat tergantung pada sistem, dan begitu selanjutnya. Orang-orang Kiri yang memiliki agenda tersembunyi tersebut (crypto-leftist) dalam aksi-aksi praksis yang sejauh ini telah mereka lakukan, kurang lebih sama dengan beberapa tipe borjuis, tetapi berbeda dengan mereka dalam tataran psikologis, ideologi dan motivasi. Borjuis biasa berusaha untuk merangkul orang-orang ke bawah kontrol sistem dalam upayanya untuk melindungi gaya hidupnya, atau ia sekedar melakukannya dikarenakan perilakunya yang memang konvensional. Sementara orang-orang Kiri yang memiliki agenda tersembunyi tersebut berusaha untuk merangkul orang-orang ke bawah kontrol sistem karena ia adalah seorang True Believer dalam ideologi kolektifis. Seorang Kiri tipe ini berbeda dari orang-orang Kiri kebanyakan yang berasal dari tipe yang telah terlalu banyak tersosialisasi, dalam fakta bahwa impuls pemberontakannya lebih lemah dan ia juga jauh lebih tersosialisasikan lagi. Ia berbeda dengan seorang borjuis kebanyakan dalam fakta bahwa ada sebuah kekurangan yang mendalam dalam dirinya yang membuat dirinya merasa perlu untuk mendedikasikan dirinya pada sebuah nilai perjuangan dan membenamkan dirinya sendiri dalam sebuah kolektifitas. Dan mungkin dorongan kekuasaan dalam dirinya (yang telah tersublimasi) yang telah begitu membatu dibandingkan rata-rata kaum borjuis.

(tulisan ini adalah sebuah bab yang dicuplik dari Manifesto Unabomber, ditulis oleh FC dan Ted Kacyinzky)

Selasa, 2008 Desember 16

PERKAWINAN DAN CINTA





















Emma Goldman

Pengertian yang paling populer dan sering didengungkan di kepala kita adalah perkawinan dan cinta merupakan satu hal yang sinonim, seakan kedua-duanya berasal dari motif yang sama, serta dalam lingkup kebutuhan manusia yang sama. Faktanya kedua hal ini tidak mempunyai kesamaan sama sekali. Seperti halnya dua kutub yang ada di bumi kita, cinta dan perkawinan adalah antagonis satu sama lain. Saya tidak meragukan adanya perkawinan adalah karena cinta; tetapi hal ini bukan berarti cinta hanya ada karena perkawinan. Adanya perkawinan dapat dilihat sebagai sebuah konvensi yang dibuat oleh manusia. Di dunia sekarang ini banyak pria dan wanita menganggap perkawinan adalah pemerasan, mereka menjalani perkawinan hanya demi opini publik. Ketika mencoba membandingkan kedua hal ini, harus saya akui bahwa dalam kebanyakan kasus cinta diteruskan dalam perkawinan, tetapi saya tetap mempertahankan bahwa cinta juga dapat terus berjalan tanpa perkawinan.

Pada sisi yang lain adalah sangat salah mengatakan cinta lahir dari perkawinan. Saya pernah mendengar kasus-kasus yang sangat jarang dimana orang jatuh cinta setelah menikah, tetapi setelah diteliti lebih jauh hal tersebut merupakan penyesuaian akan hal-hal yang tidak terhindar. Saya pribadi merasa kebiasaan yang dibangun satu sama lain jauh berbeda dengan spontanitas, intensitas dan keindahan cinta. Tanpa keintiman dapat dipastikan perkawinan hanyalah neraka bagi pria dan wanita.

Perkawinan secara umum adalah tentang pengaturan ekonomi, sebuah perjanjian asuransi. Perbedaannya dengan asuransi dalam kehidupan keseharian adalah: perkawinan lebih mengikat, lebih memeras. Keuntungan yang didapat dari perkawinan lebih sedikit dari investasi yang ditanam. Bila dalam asuransi biasa seseorang membayar polis asuransi dengan sejumlah uang, dan selalu bebas untuk melakukan atau menghentikan hal tersebut, maka dalam perkawinan seorang wanita adalah jaminan pria, dimana wanita membayar dengan menggunakan nama pria tersebut, privasinya, harga diri, dan hidupnya. "Until death do us part". Lebih jauh asuransi perkawinan membuat wanita menjadi parasit, menjadi sama sekali tidak berguna dalam lingkup individual maupun sosial. Pria juga membayar karcis perkawinan, tetapi lingkup pergaulannya lebih luas. Perkawinan tidak membatasi pria sebagaimana ini membatasi wanita. Pria hanya merasa lebih terikat dalam pengertian ekonomi.

Kekuatan motto Dante dalam Inferno berlaku juga dalam perkawinan: "Dia yang masuk ke sini, meninggalkan semua harapan di belakang".

Perkawinan adalah sebuah kesalahan, dan ini hanya dapat ditolak oleh orang yang benar-benar bodoh. Seseorang hanya harus melirik statistik perceraian untuk menyadari bagaimana pahitnya kesalahan perkawinan. Fakta bahwa setiap satu dari dua belas perkawinan berakhir dengan perceraian sejak 1870 telah berkembang dari rentang 28 hingga 73 untuk tiap-tiap seratus ribu populasi.

Dapat ditambahkan bahwa pada figur-figur material yang lain serta yang mendukung seperti drama atau literatur pada subjek perkawinan ini: Robert Herric dalam "Together", Pinero dalam "Mid Channel", Eugene Walker dalam "Paid in Full" dan banyak lagi penulis-penulis yang membahas kekosongan, kemonotonan, kemesuman, dan ketidakcukupan perkawinan akan faktor pengertian dan harmoni. Para pelajar tidak akan mendapatkan alasan superfisial bagi fenomena ini. Mereka harus terjun langsung dalam kehidupan tiap-tiap jenis kelaminnya untuk mengetahui mengapa perkawinan sangat berbahaya.

Edward Chapter mengatakan bahwa dibelakang perkawinan terbentang lingkungan kehidupan pelakunya; lingkungan yang sangat berbeda satu sama lain hingga pria dan wanita selamanya asing satu sama lain. Diliputi kabut tebal tahyul, tradisi dan kebiasaan, perkawinan tidak memiliki potensi untuk menjadi ilmu pengetahuan yang dapat dihormati pelakunya satu sama lain, dimana tanpa ini semua maka setiap usaha persatuan hanya akan mengalami kegagalan.

Henrik Ibsen, sang pembenci segala jenis kepura-puraan sosial, dapat dipastikan sebagai salah satu orang pertama yang menyadari kebenaran ini. Nora meninggalkan sang suami bukan karena apa yang kritisi-kritisi bodoh katakan sebagai kebosanannya pada kewajiban atau perasaan keinginan hak-hak wanita, tetapi karena Nora sadar bahwa selama delapan tahun ia hidup bersama orang asing yang dianggap suaminya serta memberinya seorang anak. Adakah hal lain yang lebih memalukan dan rendah daripada seumur hidup kepalsuan antara dua orang asing? Tidak ada yang perlu diketahui seorang wanita akan pria selain menabung penghasilannya. Dimana sepengetahuan wanita , apalagi yang diharapkan pria kecuali penampilannya tetap menarik? Belum lagi mitos-mitos yang berkembang akan wanita, dimana kita tidak memiliki jiwa karena dibuat dari tulang rusuk pria dan teman bagi seorang yang gagah tetapi takut akan bayangannya sendiri.

Diberikan materi-materi yang jelek selama hidupnya, wanita diberi tanggung jawab akan ketidakberjiwaannya, apa yang harus diketahui wanita? bahkan tentang dirinya sendiri? Karena lebih sedikit jiwa yang dimiliki wanita maka semakin besar asetnya sebagai seorang istri, semakin siap dia masuk ke dalam diri suaminya. Hal ini merupakan suatu perbudakan yang membuat superioritas pria bertahan sedemikian lama. Sekarang sudah waktunya wanita menentukan nasibnya sendiri, sekarang saatnya ia menyadari dirinya tidak lagi berada dibawah kebaikan tuannya. Institusi perkawinan yang suci secara perlahan mulai diruntuhkan dan tidak ada ratapan-ratapan sentimentil yang dapat mencegah hal tersebut.

Sedari kecil seorang wanita telah diberitahu bahwa tujuan utamanya adalah perkawinan; oleh karena itu pendidikannya harus diarahkan pada tujuan tersebut. Seperti binatang yang akan dipotong wanita dipersiapkan untuk hal ini. Yang membedakannya, wanita tidak banyak diberitahu tentang fungsinya sebagai istri dan ibu sebagaimana pria diberitahu akan perannya sebagai seorang calon pedagang tentang perdagangan. Adalah tidak patut bahkan kotor jika seorang wanita mengetahui tentang perkawinan serta relasi-relasinya. Dengan tidak konsisten sumpah perkawinan membuah hal-hal yang kotor tersebut menjadi pengaturan paling suci yang tidak berani dikritik oleh siapapun. Inilah yang sebenarnya dari sikap perkawinan. Prospek-prospek wanita tetap tidak diperdulikan karena asetnya hanyalah untuk lapangan kompetisi seks. Wanita menemukan dirinya berada dalam hubungan seumur hidup dengan seorang pria hanya untuk menemukan dirinya dikejutkan, dipukul mundur, dihina diluar perkiraannya oleh insting sehat yang paling alami, seks. Dapat dibilang pada saat ini persentasi tinggi akan ketidakbahagiaan, kesedihan dan penderitaan fisik dalam perkawinan adalah akibat ketidakperdulian kriminal dalam masalah seks yang dianggap sebagai sesuatu yang memiliki nilai-nilai tinggi. Tidak berlebihan bila saya katakan lebih dari sebuah keluarga hancur berantakan akibat fakta ini.

Jika misalnya seorang wanita bebas dan mengurus dirinya sendiri untuk mempelajari misteri seks tanpa sanksi-sanksi yang diberikan oleh negara dan agama, maka ia berada dalam kutukan dan dianggap tidak layak menjadi istri pria "baik-baik", ke'baik'annya biasanya adalah kepala kosong dan kantung penuh uang. Apakah ada yang lebih menghina dari ide seorang wanita dewasa yang sehat, penuh kehidupan, penuh semangat, harus menolak keinginan alaminya dan patuh pada hal-hal yang dibuat oleh konvensi untuk mematahkan semangatnya, visinya dan tidak mengalami keindahan pengalaman seks hinggak seorang pria "baik-baik" datang dan mengambilnya sebagai istri? Ini adalah maksud sebenarnya dari perkawinan. Bagaimana tidak perjanjian-perjanjian ini berakhir dengan kegagalan? Ini adalah salah satu pemikiran yang cukup penting akan faktor-faktor pernikahan, yang membedakannya dengan cinta.

Kita hidup di zaman yang praktis. Zaman ketika Romeo dan Juliet mengambil resiko akan kemarahan orang tua mereka demi cinta, sudah tidak ada lagi. Pada kesempatan-kesempatan yang langka anak-anak muda membiarkan diri mereka diberi kemewahan roman oleh orang-orang yang lebih tua, dicecoki hingga mereka menjadi "bijaksana".

Ajaran moral yang ditanamkan pada wanita muda bukanlah apa yang membuat seorang pria membuatnya jatuh cinta, tetapi ?seberapa banyak? sang pria membuatnya jatuh cinta? Hal yang paling penting dalam kepraktisan Amerika adalah ?seberapa banyak??: dapatkah orang tersebut menghidupi dirinya? Dapatkah ia men-support seorang istri? Ini adalah satu-satunya hal yang menjadi justifikasi perkawinan. Perlahan-lahan hal ini tidak terpisahkan dalam pemikiran setiap wanita. Impiannya bukanlah ciuman dibawah bulan; ia memimpikan shopping tour dan menawar barang. Kemiskinan jiwa ini merupakan elemen inheren dalam institusi perkawinan. Negara dan agama menyetujui ideal-ideal perkawinan sesederhana ide bahwa sangat perlu untuk mengontrol pria dan wanita.

Tidak diragukan terdapat orang-orang yang terus-menerus menganggap cinta berada jauh diatas dolar. Secara khusus hal ini terjadi dalam kelas-kelas yang keperluan ekonominya memaksa mereka untuk mensuport diri mereka sendiri. Perubahan pada wanita dimulai ketika mereka secara fenomenal masuk dalam arena industri dengan jumlah 6 juta wanita pencari upah; 6 juta wanita yang memiliki hak yang sama dengan pria untuk dieksploitasi, dirampok, dan untuk melakukan pemogokan; juga untuk kelaparan. Hal lain lagi Tuan? ? Ya, 6 juta pekerja dalam segala segi kehidupan, dari pengguna otak hingga pekerja tambang yang sulit dan di pembuatan rel-rel kereta api, bahkan detektif dan polisi. Dengan pasti emansipasi akan komplit.

Dengan semua ini, hanya sedikit dari kekuatan wanita yang bekerja demi upah - melihat kerja sebagai isu permanen, dalam pandangan yang sama dengan pria. Tidak terkecuali bagaimana rendahnya pria, ia telah diajarkan untuk menjadi independen, men-support dirinya sendiri, meski saya tahu tidak ada satu orangpun yang benar-benar independen dalam lingkup ekonomi zaman ini. Meskipun demikian spesies terendah dari pria membenci jadi parasit, atau untuk dikenal sebagai parasit dengan alasan apapun.

Wanita selalu berada dalam posisi transit sebagai pekerja, untuk dibuang pada kesempatan pertama. Hal ini yang membuat sangat sulit untuk mengorganisasi wanita daripada pria. ?Kenapa saya harus bergabung dengan serikat-serikat pekerja? Saya akan menikah dan punya rumah. Dan bukankah hal ini yang telah diajarkan pada wanita sejak masa kanak-kanak sebagai panggilan utama? Wanita akan belajar dengan cepat bahwa rumah, meskipun tidak sebesar penjara atau pabrik, memiliki lebih banyak pintu-pintu besi dan jeruji. Rumah memiliki penjaga yang sangat setia hingga kesia-siaan pun tidak dapat lolos darinya. Hal yang sangat tragis, rumah tidak membebaskan wanita dari perbedaan upah, tetapi malah semakin menambah tugas-tugasnya.

Menurut data statistik terakhir yang diserahkan komite ?pekerja buruh dan upah,serta kepadatan populasi? sepuluh persen dari pekerja yang tinggal di New York saja yang telah menikah, dan mereka harus hidup di dunia dengan upah terendah. Ditambah lagi dengan pekerjaan membosankan di rumah, jadi apa yang tertinggal dari keamanan dan kenyamanan rumah? Dapat ditambahkan disini bahwa seorang wanita kelas menengah tidak dapat menyebut ia mempunyai rumah, karena pria yang mengawininyalah yang membuatkan lingkungan bagi dirinya. Tidak perlu diperdulikan lagi apakah suaminya seorang brengsek atau penyayang. Apa yang saya coba buktikan adalah perkawinan menggaransi wanita akan rumah, belas kasih sang pria, kemudian ia pindah kesana tahun demi tahun hingga semua aspek kemanusiaannya serata, sependek, dan semembosankan lingkungan sekelilingnya. Dapat dipastikan wanita menjadi manja, cerewet, senang menggosip, tidak tertahankan sehingga diusir dari rumah oleh sang pria. Wanita tidak dapat pergi, bahkan jika ia ingin pergi; tidak ada tempat lain untuk dituju. Selain itu dalam periode perkawinan yang singkat dimana seorang wanita menyerahkan hidupnya dari hampir semua kesulitan, sehingga kapasitasnya menghadapi dunia di luar rumahnya tidak dimilikinya lagi. Ia menjadi ceroboh dalam penampilan, kagok dalam gerakan, tidak memiliki kemampuan mengambil keputusan bagi dirinya sendiri, penakut untuk menjalani keputusan yang diambilnya, membosankan, dan hal-hal lain yang biasanya dibenci oleh pria. Bagaimana? Apakah ini merupakan gambaran atmosfir yang menarik bagi suatu kehidupan, atau bukan?

Tetapi bagaimana dengan anak, bagaimana ia dilindungi, jika bukan demi perkawinan? Hei, bukankah ini merupakan perhatian penting akan perkawinan? Kesia-siaan, kemunafikan! Perkawinan melindungi anak? Bagaimana dengan ribuan anak tidak keruan di jalan dan tuna wisma. Perkawinan melindungi anak-anak sementara rumah-rumah panti asuhan dan sosial bagi anak-anak kepenuhan, organisasi serta grup-grup pencegahan kekejaman akan anak-anak sibuk menyelamatkan anak-anak dari orang-tua yang ?mencintai? mereka, yang seharusnya menempatkan mereka dalam kasih sayang dan perhatian? inilah masyarakat lelucon kita!

Perkawinan mungkin memiliki kekuatan untuk ?membawa kuda ke air?, tetapi apakah ia mempunyai kekuatan memaksanya untuk minum? Hukum akan menempatkan sang ayah ditangkap, dikenakan pakaian penjara. Apakah hal ini dapat memuaskan rasa lapar sang anak? Jika sang ayah tidak memiliki pekerjaan, atau jika ia memang menutupi identitas dirinya apakah arti perkawinan? Memohon pada hukum membawanya pada ?keadilan?, untuk mengamankannya dibalik terali besi dimana didalamnya ia bekerja atau dipaksa bekerja sebagai buruh yang upahnya tidak diberikan pada awaknya, melainkan pada negara. Sang anak hanya mendapatkan bayangan kelebat pakaian kerja sang ayahnya.

Sebagai pelindung wanita! Satu lagi kebohongan dari kutukan perkawinan. Karena pada intinya ia tidak melindungi wanita; ide yang sebenarnya adalah sangat menghina, menyia-nyiakan, serta merendahkan hidup, yang paling bawah dari harga diri manusia, dan pada institusi parasit ini sudah waktunya dihancurkan.

Perkawinan adalah sebagaimana juga perjanjian patrilinear kapitalisme. Merampok seseorang dari hak hidupnya, menyengatnya, meracunnya, tidak memperdulikannya, membuatnya miskin dan bergantung untuk kemudian menawarkan kebaikan hati yang membuat seorang manusia merasa tidak memiliki harga diri.

Institusi perkawinan membuat wanita seakan-akan parasit, sangat tergantung karena tidak memiliki kapasitas bagi hidupnya sendiri, menghapus kesadaran sosialnya, mematahkan imajinasi untuk lari pada perlindungan-perlindungan yang realitanya adalah jerat-jerat dari berbagai karakter manusia.

Jika keibuan merupakan pemenuhan tertinggi pagi kealamian seorang wanita, perlindungan bagaimana yang dibutuhkan untuk menyelamatkan kebebasan dan cinta? Pernikahan? Hanya mengotorkan, menghina dan merendahkan serta mengkorupsi pemenuhan kebutuhannya. Bukankah hal yang sering dikatakan pada wanita adalah, hanya jika kalau mengikuti saya maka kamu mendapatkan kehidupan? Bukankah hal ini yang membawa wanita pada kebuntuan, bukankah hal ini yang merendahkan dan memalukan dirinya sehingga ia harus menjual keibuannya dengan menolak hal tersebut hanya bagi dirinya? Bukankah perkawinan sebuah sanksi bagi keibuan, dimana disusun berdasarkan kebencian dan paksaan? Bagaimana jika keibuan adalah PILIHAN BEBAS dari cinta, kesenangan dan nafsu kehidupan serta tidak ditaruh di bawah mahkota dan huruf-huruf darah julukan-julukan seram para bajingan? Perkawinan, yang didalamnya seakan-akan berisi kebaikan-kebaikan yang sebenarnya merupakan kejahatan pada keibu-an dan menjauhkannya dari cinta yang sesungguhnya.

Cinta merupakan elemen terkuat dalam hidup, pertanda akan harapan, kegembiraan, kesenangan; cinta pembangkang dari semua hukum, semua konvensi, cinta adalah yang paling bebas; cetakan terkuat yang menentukan nasib manusia. Bagaimana mungkin semua hal yang hidup ini merupakan sinonim bagi kemiskinan agama dan negara?

Cinta bebas? Seakan-akan cinta adalah segalanya kecuali bebas! Manusia telah membeli otak, tetapi bilyunan uang di dunia tidak mampu membeli cinta. Manusia telah menaklukkan tubuh-tubuh, tetapi semua singa-singa ini gagal membeli cinta. Manusia telah merantai semangat, tetapi manusia tidak berdaya dihadapan cinta. Manusia telah mengalahkan dan menguasai seluruh negara, tetapi semua tentara mereka tidak bisa mengalahkan dan menguasai cinta. Jauh tinggi diatas tahta, dengan segala kebesarannya cinta dapat menguasai manusia tetapi manusia terisolasi dan miskin untuk menyentuhnya, dimana ketika seorang manusia mencoba untuk berusaha maka ia akan merasakan hangatnya hidup dengan warna-warnanya. Cinta mempunyai kekuatan mengubah seorang pengemis menjadi raja. Ya betul, cinta adalah bebas; ia tidak ada dalam atmosfir lain. Dalam kebebasan, cinta membuka, menerangi menyeluruh hingga semua hukum atau aturan-aturan, semua pengadilan dalam alam semesta tidak dapat mencabutnya. Ketika ia telah menjadi akar di tanah yang steril, cinta dapat membuahkan sesuatu seperti perkawinan? Hal ini sama saja mencoba menghidupkan rumput mati.

Cinta tidak butuh pelindung; cinta adalah pelindung dirinya sendiri. Sepanjang cinta menurunkan seorang anak maka cinta tidak akan meninggalkannya atau membiarkannya lapar, atau tidak peduli akan kebutuhannya akan kasih sayang. Saya tahu hal ini benar-benar terjadi. Saya kenal wanita yang menjadi ibu serta terbebas dari pria yang mereka cintai, dibandingkan anak-anak dalam tali perkawinan menikmati perlindungan serta perhatian bebas yang diberikan ibu mereka.

Para pendukung otoritas sangat ketakutan dengan adanya kebebasan keibu-an yang diupayakan sendiri oleh wanita. Siapa yang akan melakukan perang bagi mereka? Siapa yang akan membuat mereka kaya? Siapa yang akan menjadi polisi, sipir ? jika wanita menolak indiskriminasi membuat anak? Ras manusia! Ras manusia teriak sang raja,presiden, kapitalis, pendeta, ulama, dll. Ras manusia harus dijaga sehingga wanita direndahkan hanya sebagai mesin serta institusi perkawinan sebagai anjing-anjing penjaga yang membuat wanita terjaga kesadarannya sebagai budak seks yang dirampok oleh institusi-institusi ini. Dengan sia-sia usaha untuk mempertahankan keadaan mengikat ini, dengan sia-sia pula usaha-usaha agama untuk ?menyadarkan?. Serangan dari penguasa bahkan senjata-senjata hukum jadi sia-sia. Wanita tidak mau lagi menjadi pesta produksi sebuah ras yang sakit, penipu dan menghancurkan dimana ia tidak memiliki kekuatan atau keberanian moral untuk menghacurkan penindasan yang menyebabkan kemiskinan dan perbudakan. Wanita lebih memilih untuk memiliki lebih sedikit anak, dilahirkan dan diarahkan untuk cinta serta kebebasan memilih; bukan dengan paksaan seperti yang dianjurkan perkawinan. Para moralis palsu belum mempelajari perasaan tanggung jawab mendalam terhadap anak-anak bahwa cinta dalam kebebasan adalah yang membuat wanita. Dimana hal ini adalah keibuan yang sebenarnya dibanding membawa sebuah napas baru dalam atmosfir kehancuran dan kematian. Dan bila seorang wanita wanita ingin menjadi ibu bagi seorang anak adalah untuk memberikan dirinya yang terbaik sebagai tempat belajar. Untuk berkembang bersama dengan anaknya menjadi mottonya; karena hanya dengan cara itu ia dapat mengembangkan kewanitaannya, kepriaan anak-anaknya, dan ia mengetahui hal ini.

Ibsen mungkin pernah mempunyai visi, dimana dengan goresan seorang maestro, ia menggambarkan Mrs. Alvin yang merupakan ibu ideal karena memahami perkawinan dan melihat horor didalamnya, karena ia telah melepaskan ikatan-ikatan dan membiarkan spiritnya terbang bebas untuk kembali menjadi seorang manusia, lahir kembali dan kuat. Meskipun terlambat untuk menyelamatkan hidupnya sendiri, bagian dari dirinya mati bersama Oswald; tetapi belum terlambat untuk menyadari cinta dalam kebebasan adalah satu-satunya yang terindah dalam hidup. Mereka-mereka yang menjalani hidup seperti Mrs.Alvin telah membayar dengan darah dan air mata bagi kebangkitan spiritual mereka, membuat perkawinan sebagai beban, kedangkalan dan penghinaan. Mereka sadar, meskipun cinta hanya bertahan dalam periode yang pendek atau selamanya, ia adalah satu-satunya basis bagi inspirasi, kreatif sebuah ras baru, sebuah dunia baru.

Dalam keadaan primitif kita sekarang, cinta adalah hal yang benar-benar asing bagi kebanyakan orang, tidak dimengerti dan tertutup kabut, serta sama sekali tidak memiliki akar; atau tertiup angin dan mati. Material cinta pada saat ini belum bisa menahan tekanan dan bantingan kehidupan keseharian. Cinta menangis dan merintih serta menderita, jiwanya terlalu kompleks untuk masuk dalam keadaan sosial kita yang menjijikkan. Cinta menderita bersama-sama dengan mereka yang membutuhkannya tetapi tidak memiliki kapasitas untuk menjangkaunya.

Suatu hari nanti pria dan wanita akan bangkit. Mereka akan mencapai puncak gunung, mereka akan saling bertemu sama kuat dan sama bebas,siap untuk mengambil bagian, menerima, dan hidup dalam sinar cahaya cinta. Sebuah ideal, sebuah imajinasi, kejeniusan puitis yang melihat potensial kekuatan dalam kehidupan pria dan wanita. Jika dunia melahirkan pertemanan sejati dan kesatuan? bukan perkawinan, tapi cinta yang menjadi orang tuanya.

- diposting dengan backsound Desember | Efek Rumah Kaca -


Label:

Kamis, 2008 Juli 24

KAPALNYA ORANG-ORANG TOLOL

oleh : Ted Kaczynski (1999)

Pada suatu ketika, seorang kapten dan para perwira dari sebuah kapal merasa yakin atas perjalanan mereka mengarungi lautan, penuh percaya diri dan bangga dengan diri mereka sendiri, sehingga mereka menjadi gila. Mereka membelokkan kapal mereka ke utara dan berlayar hingga mereka berpapasan dengan gunung-gunung es dan gumpalan-gumpalan es terapung yang berbahaya, dan mereka tetap berlayar ke utara menuju perairan yang semakin berbahaya, semata-mata demi memberikan kesempatan pada diri mereka sendiri untuk melakukan perbuatan-perbuatan pelayaran yang jauh lebih brilian.
Sebagaimana kapal tersebut mencapai garis lintang yang semakin tinggi, para penumpang dan awak kapal semakin merasa tak nyaman. Mereka mulai berselisih di antara mereka sendiri dan mengeluhkan kondisi-kondisi hidup mereka.
“Aku menggigil,” ujar seorang jurumudi, “Seakan inilah pelayaran terburuk yang pernah aku lakukan. Dek penuh dengan es; saat aku melongok keluar, angin menusukku seperti pisau menembus jaketku; setiap saat aku menghindari karang aku harus menggerakkan seluruh jemariku yang membeku; dan untuk semua itu aku hanya mendapatkan lima shilling per bulan yang menyedihkan!”
“Kau pikir apa yang kamu terima itu buruk!” ujar seorang penumpang perempuan, “Aku tidak bisa tidur di malam hari karena dingin. Para perempuan di kapal ini tidak mendapatkan selimut sebanyak yang didapatkan para lelaki. Hal ini tidak adil!”
Seorang kelasi Meksiko menimpali, “¡Chingado! Aku hanya mendapatkan setengah dari upah para pelaut Anglo. Kami membutuhkan banyak makanan agar menjaga tubuh kami agar tetap hangat di tengah iklim seperti ini, dan aku tidak mendapatkan jatahku; para Anglo mendapatkan lebih banyak. Dan yang paling buruk dari semua hal tersebut adalah bahwa mereka selalu memberi perintah padaku dalam bahasa Inggris, bukannya Spanyol.”
“Aku memiliki lebih banyak alasan untuk mengeluh dibanding siapapun juga,” ujar seorang kelasi Indian Amerika, “Apabila para muka pucat tidak merampok tanah-tanah leluhurku, aku tak akan berada di atas kapal ini, di sini di antara gunung es dan angin Arctic. Aku akan hanya mendayung kano di sebuah danau yang indah dan tenang. Aku layak diberi kompensasi. Dan pada akhirnya, sang kapten harus membiarkanku ikut bermain judi agar aku bisa mendapatkan uang.”
Seorang homoseks turut berkata, “Kemarin seorang perwira pertama menghinaku karena aku melakukan oral seks. Aku berhak melakukan oral seks tanpa harus mendapatkan penghinaan.”
“Bukan hanya manusia yang diperlakukan tak adil di atas kapal ini,” seling seorang penyayang binatang yang berada di antara para penumpang, suaranya gemetar penuh kemarahan, “Kenapa, minggu lalu aku melihat perwira kedua menendang anjing kapal ini dua kali.”
Salah seorang dari para penumpang adalah seorang profesor universitas. Dengan meremas-remas tangannya, ia menyatakan, “Semua ini mengerikan! Tak bermoral! Rasisme, seksisme, homofobia dan pengeksploitasian kelas pekerja! Ini adalah diskriminasi! Kita harus memiliki keadilan sosial: upah yang setara bagi kelasi Meksiko, upah lebih tinggi bagi semua kelasi, kompensasi bagi Indian, jumlah selimut yang sama bagi para perempuan, sebuah hak yang dijamin untuk melakukan oral seks, dan tak ada lagi tendangan terhadap anjing.”
“Ya, ya!” seru para penumpang. “Aye-aye!” seru para awak kapal. “Ini semua adalah diskriminasi! Kita harus menuntut hak-hak kita!”
Seorang awak kabin berdehem.
“Ehm. Kalian semua memiliki alasan-alasan yang bagus untuk dikeluhkan. Tetapi bagiku tampaknya apa yang harus kita lakukan adalah memutar kapal ini dan berlayar kembali menuju selatan, karena apabila kita terus berlayar ke utara sudah pasti cepat atau lambat kita akan tenggelam, dan kemudian, upah kalian, selimut kalian, hak kalian untuk melakukan oral seks, tak akan berguna lagi, karena kita semua tenggelam.”
Tetapi tak seorangpun yang memperhatikan dirinya, karena ia hanyalah seorang awak kabin.
Sang kapten dan para perwira, dari stasiun mereka di atas dek buritan, telah melihat dan mendengarkan. Kini mereka tersenyum dan berkedip pada sesamanya, dan dengan satu gerakan saja dari sang kapten, seorang perwira ketiga turun dari atas dek buritan, melangkah menuju ke tempat di mana para penumpang dan awak kapal berkumpul, sambil menembus kerumunan. Ia memasang mimik muka serius di wajahnya dan lantas berkata, “Kami para perwira menyatakan bahwa beberapa hal yang tak termaafkan sedang terjadi di kapal ini. Kami tidak menyadari seberapa buruk situasinya hingga kami mendengar keluhan-keluhan kalian. Kami adalah orang-orang yang beritikad baik dan ingin melakukan tindakan-tindakan yang benar bagi kalian. Tetapi, yah, sang kapten cenderung konservatif dan melakukan caranya sendiri, dan mungkin harus sedikit didorong dulu sebelum ia membuat beberapa perubahan-perubahan yang substansial. Menurut pendapatku pribadi, apabila kalian memprotes dengan giat-tetapi dengan tetap damai dan tanpa melanggar aturan-aturan di atas kapal ini-kalian akan menggoyangkan sang kapten dari kebekuannya dan memaksanya agar mengurusi masalah-masalah yang baru saja kalian keluhkan.”
Setelah mengatakan hal tersebut, perwira ketiga tersebut kembali ke atas dek buritan. Sebagaimana ia pergi, para penumpang dan awak kapal berseru kepadanya, “Moderat! Reformis! Liberal yang sok baik! Kakitangan kapten!” Tetapi mereka melakukan juga apa yang diucapkan sang perwira. Mereka berkumpul di sebuah sisi kapal di hadapan dek buritan, meneriakkan hinaan-hinaan terhadap para perwira dan mengajukan tuntutan untuk hak-hak mereka, “Aku ingin upah lebih tinggi dan kondisi-kondisi kerja yang lebih baik,” seru jurumudi. “Jumlah selimut yang sama bagi perempuan,” seru sang penumpang perempuan. “Aku ingin menerima perintah dalam bahasa Spanyol,” seru sang kelasi Meksiko. “Aku ingin mendapatkan hak untuk mengikuti permainan judi,” seru sang kelasi Indian. “Aku tidak ingin dihina,” seru sang homoseks. “Tak ada lagi yang menendang anjing,” seru sang penyayang binatang. “Revolusi sekarang juga,” seru sang profesor.
Sang kapten dan para perwira berkumpul dan melakukan rapat selama beberapa menit, saling berkedip, mendengus dan tersenyum beberapa saat antara satu sama lain. Kemudian sang kapten melangkah ke depan dek buritan dan, dengan memperlihatkan itikad baiknya, menyatakan bahwa upah sang kelasi yang cakap akan dinaikkan sebanyak enam shilling per bulan; upah kelasi Meksiko akan dinaikkan sebanyak dua pertiga dari kelasi Anglo, dan perintah untuk menjalankan kapal akan diucapkan dalam bahasa Spanyol; para penumpang perempuan akan menerima tambahan satu selimut; kelasi Indian akan diperbolehkan untuk bermain judi setiap Sabtu malam; sang homoseks tak akan dihina selama ia tetap melakukan oral seks di tempat yang tertutup; dan anjing tak akan ditendang kecuali anjing tersebut melakukan tindakan yang benar-benar nakal, seperti mencuri makanan dari dapur.
Para penumpang dan awak kapal merayakan keputusan-keputusan tersebut sebagai sebuah kemenangan besar, tetapi keesokan harinya mereka kembali merasa tak puas.
“Enam shilling per bulan itu terlalu sedikit, dan jari-jariku masih membeku saat aku menjalankan kapal,” umpat sang juru mudi. “Aku masih tidak mendapatkan upah yang sama dengan para kelasi Anglo, ataupun makanan yang cukup untuk iklim yang seperti ini,” ujar sang kelasi Meksiko. “Kami perempuan masih tidak mendapat cukup selimut untuk membuat badan kami hangat,” ujar sang penumpang perempuan. Para kelasi dan penumpang lain menyuarakan keluhan-keluhan yang serupa, dan sang profesor mengambil kesimpulan dari semuanya.
Saat mereka semua telah selesai berbicara, sang awak kabin berkata-kali ini dengan suara lebih keras sehingga yang lain tak akan lagi tak memperhatikannya.
“Memang sangat buruk apabila anjng tersebut ditendang hanya karena mencuri sedikit roti dari dapur, dan apabila para perempuan tidak mendapatkan jumlah selimut yang setara, dan sang jurumudi membeku jemarinya, dan aku juga tidak melihat alasan mengapa homoseks tidak boleh melakukan oral seks kapanpun ia mau. Tetapi perhatikan seberapa tebal gunung-gunung es sekarang, dan bagaimana hembusan angin semakin kencang dan semakin kencang! Kita harus mengubah arah kapal ini kembali ke selatan, karena apabila kita tetap meluncur ke utara kita akan menabrak dan tenggelam.”
“Oh ya,” ujar sang homoseks, “Bukankah mengerikan apabila kita terus berlayar ke utara. Tetapi mengapa aku harus melakukan orang seks di tempat tertutup? Mengapa aku harus mendapat penghinaan? Bukankah aku setara dengan orang lainnya?”
“Berlayar menuju utara memang mengerikan,” ujar sang penumpang perempuan, “Tetapi tidakkah kau lihat? Itu alasannya mengapa perempuan membutuhkan lebih banyak selimut agar tetap hangat. Aku menuntut jumlah selimut yang setara bagi perempuan, sekarang juga!”
“Cukup benar,” ujar sang profesor, “Bahwa berlayar ke utara memberikan kesulitan-kesulitan pelayaran yang lebih besar bagi kita semua. Tetapi mengubah arah haluan ke selatan jelas tidak realistis. Engkau tak dapat mengembalikan waktu. Kita harus bersikap dewasa dalam berurusan dengan situasi seperti ini.”
“Lihat,” ujar sang awak kabin, “Apabila kita membiarkan empat orang gila di dek buritan itu menjalankan apa yang mereka mau, kita semua akan tenggelam. Apabila kita dapat membawa kapal ini keluar dari bahaya, maka barulah kita bisa mulai khawatir tentang kondisi-kondisi kerja, selimut bagi para perempuan, hak untuk melakukan oral seks. Tetapi pertama-tama kita harus membuat kapal ini berbalik arah. Apabila beberapa dari kita bekerjasama, membuat rencana dan memperlihatkan sedikit keberanian, kita dapat menyelamatkan diri kita semua. Tidak perlu terlalu banyak-enam atau delapan orang saja cukup. Kita dapat mengambil alih buritan, menyingkirkan mereka dari posisinya, dan membelokkan kapal ke arah selatan.”
Sang profesor mendenguskan hidungnya dan bersuara keras, “Aku tidak percaya pada kekerasan. Itu tak bermoral.”
“Sangat tidak etis untuk menggunakan kekerasan,” ujar sang homoseks.
“Aku takut pada kekerasan,” ujar sang penumpang perempuan.
Sang kapten dan para perwira telah melihat dan mendengarkan selama beberapa saat. Dengan sebuah sinyal dari sang kapten, perwira ketiga melangkah turun ke dek utama. Ia melangkah menuju ke arah para penumpang dan awak kapal, berkata pada mereka bahwa masih juga banyak masalah di atas kapal.
“Kita telah membuat beberapa kemajuan,” ujarnya, “Tetapi masih banyak yang harus dilakukan. Kondisi-kondisi kerja bagi jurumudi masih sulit, kelasi Meksiko masih mendapat upah yang tak setara dengan kelasi Anglo, para perempuan masih juga tidak mendapatkan selimut yang sama banyak dengan para lelaki, permainan judi Sabtu malam bagi sang Indian juga masih berupa kompensasi yang jauh dari cukup atas tanahnya yang hilang, sama sekali tak adil bagi homoseks apabila ia hanya boleh melakukan oral seks di tempat tertutup, dan anjing itu masih juga ditendang.
“Aku pikir sang kapten harus didorong lagi. Akan sangat membantu apabila kalian menyelenggarakan protes lagi-selama tidak dengan kekerasan.”
Sebagaimana sang perwira ketiga berjalan kembali ke buritan, para penumpang dan awak kapal mengeluarkan hinaan-hinaan padanya, tetapi mereka juga tetap menjalankan apa yang sang perwira katakan dan berkumpul di depan buritan untuk melakukan protes lagi. Mereka berseru dan mengoceh serta mengacungkan kepalan tangan mereka, dan bahkan mereka juga melemparkan sebuah telur busuk pada sang kapten (yang mana dengan lihai dielakkannya).
Setelah mendengarkan keluhan-keluhan mereka, sang kapten dan perwira berkumpul dan melakukan sebuah rapat, yang mana selama rapat mereka saling berkedip dan meringis dengan sesamanya. Kemudian sang kapten melangkah ke depan dek buritan dan menyatakan bahwa sang jurumudi akan diberi sarung tangan agar jemarinya tetap hangat, kelasi Meksiko akan menerima upah yang setara dengan tiga per empat upah kelasi Anglo, para perempuan akan mendapatkan tambahan selimut, kelasi Indian diperbolehkan berjudi pada Sabtu malam dan Minggu malam, sang homoseks diperbolehkan melakukan oral seks di manapun setelah hari gelap, dan tak ada seorangpun yang boleh menendang anjing tanpa seijin kapten kapal.
Para penumpang dan awak kapal bergembira atas kemenangan revolusioner besar ini, tetapi keesokan harinya mereka kembali merasa tak puas dan mulai menggerutu atas kesulitan-kesulitan yang sama dalam pelayaran tersebut.
Kali ini sang awak kabin menjadi marah.
“Kalian tolol!” teriaknya, “Tidakkah kalian lihat apa yang sang kapten dan para perwiranya lakukan? Mereka terus membuat kalian berpikir pada kesialan-kesialan tak penting seperti selimut dan upah dan anjing yang ditendang sehingga kalian tidak akan berpikir tentang apa yang sebenarnya salah dengan kapal ini-bahwa kapal ini terus berlayar semakin dan semakin jauh ke utara dan kita semua akan tenggelam. Apabila saja beberapa dari kalian sadar, bekerjasama, dan mengambil alih buritan, kita dapat memutar arah kapal ini dan menyelamatkan kita semua. Tapi semua yang kalian lakukan hanyalah mengeluhkan isu-isu remeh seperti kondisi-kondisi kerja dan permainan judi dan hak untuk melakukan oral seks.”
Para penumpang dan awak kapal mulai naik darah.
“Menyedihkan!” seru sang Meksiko, “Apakah pikirmu memang wajar kalau aku hanya mendapatkan tiga per empat upah seorang kelasi Anglo? Bukankah itu menyedihkan?”
“Bagaimana bisa engkau menyebut kesialanku ini tidak penting?” seru sang homoseks, “Tidakkah engkau tahu bahwa dihina itu sangat menyakitkan?”
“Menendang anjing itu bukanlah sebuah isu yang remeh!” seru sang penyayang binatang, “Hal tersebut tak berperasaan, kejam dan brutal!”
“Baiklah kalau begitu,” jawab sang awak kabin, “Isu-isu tersebut tidak remen dan penting. Menendang anjing adalah tindakan yang kejam dan brutal, serta sangat menyakitkan kalau dihina. Tetapi dibandingkan dengan masalah utama kita-dibandingkan pada fakta bahwa kapal kita masih mengarah ke utara-kesialan-kesialan kalian menjadi sesuatu yang remeh dan tak penting, karena apabila kita tidak sesegera mungkin mengubah arah kapal ini, kita semua akan tenggelam.”
“Fasis!” ujar sang profesor.
“Kontra-revolusioner!” ujar sang penumpang perempuan. Dan seluruh penumpang serta awak kapal saling berbicara di antara mereka sendiri, menyebut sang awak kabin sebagai seorang fasis dan kontra-revolusioner. Mereka mendorong sang awak kabin ke pinggir dan kembali menggerutu tentang upah, tentang selimut bagi para perempuan, dan tentang hak untuk melakukan oral seks, dan juga tentang bagaimana anjing harus diperlakukan.
Kapal tersebut tetap berlayar ke arah utara, dan setelah beberapa saat, kapal tersebut terjepit hingga hancur di antara dua buah gunung es dan semua orang tenggelam.

Label:

Senin, 2008 Juni 16

KEMISKINAN KEHIDUPAN SEKSUAL

Perjuangan proletariat melawan kapitalisme yang paling kontemporer tidak terbatas hanya dalam tataran produksi dan berhenti pada sebentuk kejijikan terhadap kondisi yang eksis tersebut yang terekspresikan dalam terminologi ekonomis dan politis saja. Dewasa ini, tanda-tanda pemberontakan yang muncul lebih banyak menekankan pada sisi social dalam karakter yang diembannya melebihi porsi lainnya, dan sebagai konsekuensinya, kritik teoritis mengenai kehidupan harian dalam tataran masyarakat borjuis, yang dimulai dengan analisa Marx mengenai pengalienasian pekerja, harus dikembangkan untuk meliputi bentuk-bentuk baru sebagai ekspresi praksis. Oposisi yang samar-samar terhadap kehidupan spektakular menjadi semakin terlihat, tidak hanya dalam poin-poin produksi, melainkan juga melalui setiap faset dari realitas yang dihadapi setiap hari. Tampaknya aspek-aspek yang paling signifikan dari pemberontakan ini telah berkembang melalui penolakan secara luas terhadap struktur dasar masyarakat borjuis, keluarga, pernikahan, moralitas, dsb.; kolapsnya bentuk-bentuk dan nilai-nilai yang saling terpisah tersebut telah menjadi bagian dari pemberontakan yang menyeluruh melawan definisi konvensional atas seksualitas yang 'diperbolehkan'. Dalam konteks yang lebih luas lagi, devaluasi masyarakat borjuis secara implicit adalah sebuah bentuk penolakan atas kondisi survival yang dipaksakan. Walaupun pada saat yang sama, bagaimanapun juga, oposisi ini tidak tampil sebagai sebuah ancaman yang menyentuh pengkelasan masyarakat.

Norma yang secara social diruntuhkan melalui kebiasaan seksual telah lama menjadi bentuk penyerangan terhadap batu fondasi masyarakat hirarkis. Sudah menjadi tradisi bahwa karakter represif dari masyarakat borjuis memang terlegitimasikan, tidak hanya terepresentasikan dalam penggunaan kekerasan melawan proletariat, tetapi juga penindasan terhadap seksualitas. Telah berabad-abad lamanya, negerinegeri dimana sistem birokratisasi negaranya sangat sukses, menerapkan moralitas yang asketis dan berbagai variannya sebagai sebuah mekanisme yang sangat efektif untuk membuat regulasi sosial: misalnya Russia (yang kini telah ambruk), Cina, Kuba, Afghanistan di bawah Taliban, dlsb., menerapkan ideologi moral yang mirip dengan efek yang juga mirip. Sementara itu di negeri-negeri yang secara terangterangan mengadopsi system kapitalisme sebagai bagian dasar dari tatanan masyarakatnya, bagaimanapun juga, bentuk yang paling advance dari masyarakat spektakularnya tidak menggunakan metoda-metoda yang vulgar seperti beberapa contoh Negara di atas dalam mengontrol penduduknya, walaupun tujuan yang ingin dicapai jelas tak berbeda. Dalam kasus ini, seperti di Indonesia sendiri misalnya, Dunia Tontonan telah bergerak jauh dan justru secara aktif mempromosikan dekomposisi bagi bentuk-bentuk yang selama ini memperkuat posisinya: nilainilai moralitas dan keluarga. Seksualitas yang sebelumnya menjadi batasan-batasan masyarakat borjuis kini mulai ditoleransi, yang dimana secara terbuka dan agresif terekspresikan oleh mereka yang selama ini 'dipinggirkan' seperti kaum gay, pekerja seks, dibantu oleh ekspos berbagai media, walaupun hal tersebut tetap menjadi bagian dari kultur spektakular yang begitu menyeluruh. Sebagai contoh, dapat dilihat presentase jumlah karya literer yang ditulis oleh para penulis muda, sebagian besar mengambil seks sebagai tema intinya, atau setidaknya seks menjadi bagian yang kental dan tak terpisahkan dari keseluruhan karya; belum lagi fenomena 'goyang Inul' yang sempat menjadi bahan pergunjingan nasional mengalahkan fenomena Perang Teluk II.

Apa yang dulu dianggap tabu dalam masyarakat borjuis telah melenyap di hadapan konflik moral yang menghadirkan standar-standar baru. Berbagai suri tauladan dalam kehidupan yang telah lalu (virginitas, monogami, 'straight sex', dsb.), yang memang tidak lebih dari sekedar mitos, telah tergantikan oleh 'petualangan' modern yang penuh intrik dan sebelumnya dianggap kekufuran. Dari gedung-gedung perkantoran hingga ke daerah pinggiran, 'keterbukaan' telah diproklamasikan dalam berbagai affair seksual; tuntutan-tuntutan yang 30 tahun lalu dianggap radikal seperti perlunya edukasi seks, kini mulai diterima sebagai sebuah program khusus dalam berbagai institusi publik. Di bidang sastra, libertinisme radikal seperti Leopold von Sacher-Masoch, justru menjadi sebuah kekuatan dalam ritual kontemporer perayaan 'kebebasan seksual'--yang terbukti hal-hal yang menjadi skandal di masa lalu, kini tak lebih selain sebuah stimulant yang memberi sedikit warna lain dalam kehidupan sehari-hari. Keterbukaan tersebut bahkan juga telah menyelusup pada media-media konvensional; ibu-ibu rumah tangga kini dapat 'berpartisipasi' dalam talk-show di berbagai radio dimana aktifitas seksual, persenggamaan, penyimpangan, menjadi topik utama yang dibicarakan dengan terang-terangan.

Menengok pada era tahun 1960an di Barat yang banyak didiskusikan dan menjadi acuan hingga saat ini tentang kebebasan seksualnya, Bagaimanapun juga, justru melandaskan dirinya pada sebuah dominasi seksual. Dalam usahanya untuk membuat seksualitas menjadi hal yang dapat diakses umum, Dunia Tontonan justru tersembunyi dalam tingkat kecabulannya. Kapitalisme bertransformasi dengan terus membuat generalisasi-generalisasi atas imaji seksual, yang sejauh apapun disingkirkan dari puritanisme, tetap hanya dihadirkan sebagaimana sebelumnya: sebagai sekedar imaji, menggantikan realitas sesungguhnya. Seksualitas yang 'baru' ini, tetap seperti esensi lamanya, telah menjadi senjata dalam perjuangan kelas, tidak hanya dalam relasi di kehidupan harian. Pornografi spektakular dalam penggunaan seksualitas mereduksi seks itu sendiri menjadi hanya sekedar bentuk dalam film, majalah, dsb., serta iklan yang sugestif dimana perempuan dan laki-laki dianggap tak lebih dari obyek dalam dunia konsumer. Pendangkalan nilai-nilai hidup oleh kapitalisme telah mencapai poin dimana seksualitas itu sendiri juga tak lebih dari sekedar ladang baru. Prinsip nyata yang dikedepankan oleh kapitalisme atas kenikmatan seksual tak lebih dari sebuah komoditi realitas; seksualitas mendapat lahan dalam pasar ekonomi modern, tidak hanya sebagai sebuah komoditas, tetapi juga sebagai sesuatu yang saling menjual. Voyeurisme hadir dalam setiap aspek Dunia Tontonan, yang kini menemukan tempatnya dalam konsumsi seksual.

Akumulasi spektakular atas seksualitas adalah hanya akumulasi penderitaan dan reifikasi pengalaman erotis yang memproduksi pelengkapnya dalam bentuk nihilisme seksual yang semakin merajalela. Disini, seluruh kenikmatan justru lenyap—kebebasan yang disuguhkan oleh kapitalisme modern memberikan kebebasan untuk bertemu, bersenggama, tetapi tak lebih sebagai sebuah obyek. Situasi ini, bagaimanapun juga, tidak dihitung sebagai apa, yang oleh Marcuse disebut sebagai 'desublimasi represif', dimana alienasi justru semakin hadir melalui pelepasan gairah seksual. Seksualitas spektakular jelas adalah bentuk kompensasi atas kemiskinan dalam kehidupan spektakular—alienasi seksual adalah momen lain dari alienasi total dan penindasan seksual tetap menjadi bagian dari penindasan sector terbesar dari proletariat. Sebuah kritik baik atas seksualitas yang lama maupun yang 'baru' dalam tatanan masyarakat borjuis dikembangkan oleh gerakan para aktifis feminis dan gay. Dalam penolakannya terhadap peran seksual yang dituntut oleh kapitalisme, gerakan-gerakan tersebut telah membuka tabir reifikasi seksual--dalam masyarakat borjuis, relasi personal ditentukan oleh relasi sosial. Tetapi saat mengekspos hirarki dan dimensi sosial dari relasi seksual saat ini, gerakan-gerakan tersebut ratarata gagal dalam mengembangkan sebuah kritik atas dominasi spektakular secara menyeluruh. Termasuk dalam terminologi seksualitas, kritik mereka sangat terbatas dan tidak merengkuh peran-peran yang juga dipaksakan pada yang lain (laki-laki, 'straight'); dan yang lebih pentingnya lagi, bagaimanapun juga, gerakan tersebut tidak menyentuh berbagai mistifikasi yang meliputi kontradiksi sosial yang cukup 'esensial' yang dihadirkan oleh perbedaan seksual. Dari ketaklengkapan ini, gerakan feminis dan gay serta sejenisnya justru mengkonstruksi ideologi-ideologi separatis dimana kritik atas kehidupan harian terkubur di bawah slogan reformis 'kesejajaran seksualitas'.

Ruang yang ditinggalkan oleh gerakan para feminis dan lainnya adalah justru tempat dimana kritik radikal dari keterlibatan-keterlibatan sosial atas perilaku seksual dapat bermula. Adalah alienasi dalam sebuah totalitasnya, dan bukan semata-mata hanya dalam aspek seksual, yang harus diluluhlantakkan oleh proletariat; penolakan atas ikatan-ikatan pelengkapnya (pernikahan yang dilembagakan, pekerjaan rumah tangga) hanya memiliki arti jika hal tersebut menjadi bagian dalam penolakan akan seluruh ikatan. Dalam dua abad lampau sebelum kritik atas seksualitas borjuis muncul, Fourier mendemonstrasikan bahwa perubahan kualitatif dalam relasi seksual hanya dapat dilakukan dalam konteks social yang benar-benar berbeda. Semua eksperimen 'radikal' yang sifatnya abstrak, seakan dikutuk untuk mengalami kegagalan: subkultur. Ia hanya menjadi sebuah ilusi tentang pemberontakan. Disini, seksualitas spektakular diproduksi pada tingkat yang 'hip': dari voyeurisme murahan ala buku karya Moammar Emka hingga 'keluarga' dari sekte aktifis Kiri hingga komunitas-komunitas subkultur, seluruh nilai-nilai lama dimunculkan kembali.
Melawan Dunia Tontonan dalam hal seksualitas, adalah penting untuk mengeksplorasi 'keinginan bebas' dari tiap individual--sebuah kekuatan radikal yang belum eksis dan memang tak dapat, sesuai fakta yang ada, eksis terpisah dari aksi revolusioner kolektif. Untuk keluar dari lingkaran spektakular, hasrat individu untuk melawan kehidupan harian yang mirip penjara dalam masyarakat borjuis tidaklah dengan sekedar menentang seksualitas spektakular, sebab ideologi 'kebebasan seksual' juga terbukti dapat dengan mudah terkooptasi. Perbincangan mengenai kebebasan seksual memang tidak semestinya keluar dari kerangka pemikiran mengenai kebebasan social dalam skala yang lebih besar.

Hal ini pernah dikembangkan oleh gerakan Reimut Reich di awal abad lalu, yang mengajukan teori-teori, terlepas dari usia gerakan yang begitu pendek, lebih radikal dibandingkan dengan ideologi-ideologi 'modern'. Bagaimanapun naifnya asumsi yang muncul saat itu (seperti kebingungan Lenin dalam menanggapi gerakan tersebut), gerakan Sex-Pol dari Reich di tahun 1920 tersebut merepresentasikan salah satu dari usahausaha pertama untuk mengembangkan sebuah oposisi radikal terhadap masyarakat borjuis yang berada dalam tataran kehidupan harian. Berbeda dengan para klinikal atau psikologis-psikologis 'radikal' dewasa ini, Reich tidak memfokuskan baik pada soalan analis ataupun seksualitas itu sendiri: analisis Reich justru membawa pada sebuah jalur pemberontakan yang konkrit melawan seksualitas borjuis melalui perjuangan kelas secara keseluruhannya. Visi Reich atas 'revolusi seksual' dewasa ini hanya merupakan bagian dari proyek revolusioner yang dihadapi oleh proletariat.

Penyikapan atas seksualitas adalah salah satu aspek dari sebuah penyikapan total. Pencarian akan kehidupan dan komunikasi yang otentik, walaupun termistifikasi, berada di akar seluruh pengalaman seksual yang hanya akan terpuaskan melalui transformasi seluruh relasi sosial. Gairah revolusioner merengkuh segala macam hasrat dalam sel-sel dimana kita semua terperangkap, yang hanya dapat dihancurkan dengan melakukan abolisi terhadap Dunia Tontonan secara keseluruhan.
________________
Catatan :
a. Dunia Tontonan yang dimaksud adalah term spectacle sebagaimana Guy Debord dalam Society of Spectacle.
b. Artikel ini diposting tanggapan atas beberapa masukan yang dikirim kepada kami. Masukan tersebut juga sebagai tindak lanjut dari diskusi Malam Jumatan Idefix, minggu lalu bertemakan “Seks, Tatanan Sosial dan Kekuasaan”. Semoga perbincangan soal seks tidak lagi banal, tabu dan 'mistis' sebagaimana asumsi umum.

Minggu, 2008 Mei 11

SUBLIMASI PARODI RUTINITAS


“The individual, in our society, worksfor profit; but the social purpose of his worklies in the consumption of what he produces.It is this divorce between the individual andthe social purpose of production that makesit so difficult for men to think clearly in aworld in which profit-making is the incentiveto industry.”-- Bertrand Russell (1872-1970)

Rekreasi, berlibur dan meluangkan waktu bersama teman atau mungkin kekasih kalian,setelah merasakan kepenatan dalam rutinitas kerja. Tentu saja, hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat dirindukan dalam eramodernitas saat ini. Para pekerja seakan menganggap hal ini, layaknya sebuah momendi mana mereka dapat terlepas dari“lingkaran setan” rutinitas kerja. Suatu momen di mana mereka menganggap bahwa waktu luang tersebut seakan-akan menjadi sebuah masa kebebasan dari “rantai-rantai” dunia kapital yang membelenggu hidup,walaupun mereka sendiri sadar bahwa haltersebut hanyalah untuk sementara saja.Sebab esok hari mereka harus kembali lagi melakukan rutinitas yang sama.

Kita seakan melihat bahwa semuarutinitas ini menjadi satu hal yang wajar. Seorang teman malah pernah bilang sepertiini,

“yah...rutinitas ini memang membosankan, tapi toh...saya kan nggak kerja terus-terusan, waktu libur saya, kan,tetap bisa saya manfaatin buat ngehilangin kebosanan yang kamu maksud. Saya bisa pergi rekreasi, tetap bisa hang out, nonton, belanja ke mall, atau pergi ke diskotik bersama teman saya.”

Ho-ho-ho... what a beautyfull world that we live in. Hal ini seakan menjelaskankondisi yang ada pada saat ini, bahwa kitamelihat seakan-akan segala rutinitas membosankan yang dilakukan sebagai sebuah kewajaran. Sekalipun pada dasarnya kita sadar bahwa semua itu memang amatlah sangat membosankan. Namun, mekanisme dunia industrialisasi serta komoditas selalu punya sejuta cara menggiurkan untukmengaburkan kemerosotan yang terjadi pada saat ini.

Roda dari dinamika internal dunia produksi dan konsumsi selalu punya cara untuk membuat “hewan-hewan gembalaannya” tetap berada di jalur dunia kapital. Waktu luang yang ada dalam rutinitaskerja tak pernah menjauhkan para pekerjadari dunia komoditas. Pada kenyataannya,waktu luang ditransformasikan lagi menjadisebuah bentuk komodifikasi. Dengan kata lainwaktu luang itu sendiri adalah merupakanproduk dari mekanisme produksi dan konsumsi, sebuah blueprint bagi kehidupanmanusia yang dimateraikan oleh perputaranroda dunia kapital.
Kebosanan yang dirasakan olehseseorang dalam lingkungan kerjanya, tentusaja menjadi sebuah isyarat yang buruk bagimekanisme pasar, dan salah satu cara untukmengaburkan hal tersebut adalah denganmenggiring mereka (pekerja) dalam “mimpi-mimpi”komoditas dengan segala hal yangbegitu “berkilauan” yang ada di dalamnya.“Ilusi” akan waktu luang merupakan carauntuk menghipnotis setiap pekerja, sehinggajika mereka kembali melakukan rutinitaskerja yang (tentu saja...!) telah dijadwalkan,mereka tetap berada dalam kondisi yangsegar, sehat, dan ceria. Perputaran dan setiapperulangan ini tentu saja tak pernah lepas darimekanisme komoditas. Semua ini seakanmembuat kita berpikir bahwa tak pernah adajalan untuk keluar dari perputaran rutinitasini, bahwa kita harus menerima semua inisemata-mata sebagai suatu kewajaran.

Menjadikan kehidupan yangmengisolasi ini menjadi suatu hal yang patutuntuk disakralkan, adalah sebuah sejarahyang muram dari peradaban manusia. Dimana setiap orang memainkan peranan yangsama dan dalam arahan yang sama pula,dalam sebuah mekanisme perbudakan duniakomoditas. Dalam kondisi schizofrenik ini,aktifitas kerja dari para pekerja itu sendirimemiliki satu substansi tertentu. Namun,mereka tak memiliki kebebasan, sebaliknyadalam waktu luangnya, mereka memilikikebebasan, namun tanpa substansi apa pun.

Waktu luang yang diperuntukkan bagipara pekerja untuk menghilangkan kelelahanserta mereduksi seminimal mungkin rasabosan yang dialami, merupakan waktu kosongyang diperuntukkan bagi kepentingan kerjaitu sendiri. Satu-satunya perbedaan antarabekerja dengan waktu luang adalah, bahwajika bekerja paling tidak kamu dibayar untukketerasingan dan rasa lelah yang kamu alami.
Kesenangan yang didapatkan di dalammekanisme pasar dan komoditas menjadijauh lebih membosankan daripada rasa bosanyang didapatkan pada waktu memproduksiproduk-produk tersebut. Hasrat untukbersenang-senang didefenisikan dalam duniakomoditas sebagai kesenangan dalammengonsumsi. Sebuah kebebasan abstrakdalam wilayah orbit suatu perolehan profitmaksimum. Efek yang mengerikan, kinimenyebar dan memasuki setiap “celah-celah”mimpi sekalipun, mereduksi setiap gairahuntuk bersenang-senang menjadi “sesosokmonster” yang bernama komoditas. Orientasipasar yang berupa profit menciptakan peranbagi “parodi” ini. Mentransformasikan hidupsetiap pelakunya dalam bentuk komoditas.

Rutinitas kerja keseharian yang kompleks, terutama yang terjadi dalammasyarakat di kota-kota besar, tentu dirasakan sangatlah membosankan. Dan dalam waktu luangnya, maka para pelaku mekanisme pasar ini memanfaatkan waktu yang tersedia tersebut untuk menghilangkankepenatan mereka dengan mencari kesenangan. Namun, kesenangan tersebutmelahirkan bentuk komodifikasi yang lainlagi: setelah memproduksi maka selanjutnya mengonsumsi. Inilah mata rantai yang demikian eratnya membelenggu keseharian hidup manusia.

Lihat saja di sekeliling kalian, industrialisasi hiburan kini makin menjamur di mana-mana, menjadi satu lahan bisnis yang sangat menarik. Mulai dari para investor asing hingga birokrat-birokrat lokal punberamai-ramai mulai “menambatkanjangkarnya” di lahan bisnis industri hiburan ini. Hal ini tentu tak pernah lepas dariperanan media yang dengan sangat gencar mempropagandakan “parade” komoditas ini. Memberikan standarisasi nilai hidup yangsangat menggiurkan, yang pada kenyataannya hanya menjadi satu bentuk kebosanan yanglain lagi.

Setiap pilihan yang ada dalam kilaudunia komoditas, menyediakan setiap pilihanyang pada intinya merupakan manifestasikehidupan manusia yang pasif, danmematikan setiap gairah hidup manusia. Kiniapa yang menjadi pilihan kalian?Menghabiskan waktu di depan televisi selamaseharian di waktu libur; mengisolasi dirisendiri di depan layar kaca sambil menelanmentah-mentah setiap propaganda iklan yangada di dalamnya; atau malah menghabiskanratusan ribu; atau lebih untuk bersenang-senang bersama teman dan relasi bisnis;ngobrol hal-hal yang masih juga berhubungandengan urusan bisnis di dalam diskotik, danpulang ke rumah masing-masing dalamkeadaan mabuk parah. Tertidur hingga esok hari untuk kemudian memulai rutinitas kerja,yang masih saja sama dengan hari-harisebelumnya: dengan kelelahan, kepenatan,dan tentu saja, masih dengan rasa bosan yangtetap saja sama.

Semua aktivitas yang dilakukan dalamdunia komoditas ini memang memilikiperbedaan dalam pelaksanaannya namunesensinya tetap saja sama, yaitu kebosanandan keterasingan yang abadi. Dalam duniakomoditas kebebasan hanyalah suatu ilusi,yang memparodikan sebuah ilusi akankebebasan dengan mengonsumsi. Jika gairahhidup manusia telah mati, maka kini apa lagi yang masih berarti dari kehidupan itusendiri? []

(Thomas - partisipan Idefix)


Sabtu, 2008 April 12

GONGGONGAN ANJING LIAR

Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang Diogenes, mungkin seorang yang cukup banyak dikenal dalam masa Yunani Kuno: dikisahkan bahwa suatu hari ia sedang berendam di bak mandi yang ia sebut sebagai rumahnya, saat Alexander Agung datang dan berkata kepadanya. Sang raja diraja ini berkata padanya dengan tegas, “Akulah Alexander, pangeran Makedonia dan seisi dunia. Aku mendengar bahwa engkau adalah seorang filsuf yang hebat. Apakah engkau memiliki sebuah kata-kata bijak untukku?” Merasa terganggu ketenangannya berendam, Diogenes hanya menjawab, “Ya. Engkau berdiri menghalangi sinar matahariku. Sekarang minggir!”

Walaupun kisah ini memang tidak dapat diyakini ke-asliannya, ia merefleksikan bagaimana pada era tersebut, orang-orang terang-bersikap dan otoritas melecehkan Kuno Yunani terangan dalam mengekspresikan pele-cehan tersebut. Dalam masa itu pula diproklamirkan sebutan “anjing” (anjing liar tentu saja) bagi mereka yang menolak hirarki, keterikatan sosial dan kebutuhan akan hukum, serta menyambut kehadiran itu semua dengan ejekan-ejekan sarkastik.

Betapa berbedanya kesinisan pada era tersebut dengan apa yang disebut kesinisan sekarang ini. Beberapa tahun lalu, sebuah grup radikal di Inggris yang menamakan dirinya Pleasure Tendency mempublikasikan sebuah pamflet berjudul “Tesis Melawan Kesinisan”. Dalam pamflet ini, mereka mengkritisi sebuah perilaku yang seakan menjadi trend disana, perilaku frustrasi yang sarkastik—yang menyedihkannya, perilaku ini justru merebak di kalangan anti-otoritarian dan revolusioner.

Para pendukung sinisme modern sekarang ini ada dimana-mana. Komedi sarkastik yang menjadi trend ini masalahnya tidak merepresentasikan tantangan yang sesungguhnya pada kekuatan dominan. Dalam faktanya, mereka para pelakunya yang bertingkah seakan telah mengerti segala isme dan ideologi, malah tak ada bedanya dengan perilaku para yuppies yang mereka klaim juga mereka lecehkan. Mereka tak memiliki terjadi yang apa tentang mendalam yang pemahaman sesungguhnya, mereka hanya membuat pembenaran atas konformitas mereka.

“Yayaya, kami sudah tahu apa jadi tujuan para politisi dan eksekutif korporat. Kami juga sudah tahu kalau itu semua cuman permainan yang busuk. Tapi nggak ada yang bisa kami lakukan, jadi ya kami lakuin apapun yang kami suka. Toh nggak ada bedanya.” Perhatikan kalimat di atas yang tentu sering diluncurkan oleh mulut-mulut pendukung sinisme. “Tapi nggak ada yang bisa kami lakukan.”—ini adalah pesan utama yang dikembangkan oleh para sinistik modern. Mereka tidak menyerang otoritas, melainkan malah menyerang siapapun yang masih berani menantang sistem yang seakan tak mungkin yang mereka konformitas bagi Pembenaran ini. Dilawan ditutup-tutupi oleh kesinisan yang seakan telah tahu segala hal dan bahwa segala usaha mengubah dunia adalah usaha yang tolol.

Perilaku ini masuk ke dalam lingkar kaum revolusioner melalui pintu belakang dari filsafat posmodern dimana ironi hiper-konformitas dijadikan sebuah strategi revolusioner. Dengan wajah dan senyuman sinis, kebanyakan para radikal dari filsafat posmodern mengatakan kepada kita semua bahwa yang sebuah adalah sekarang butuhkan kita kapitalisme terhadap logis dorongan hingga ke taraf skizofrenia terekstrimnya, sesuatu yang akan menghancurkan dirinya 'radikal' sinistik para Bagi sendiri. modern ini, seluruh usaha untuk menghancurkan masyarakat tatanan saat ini dinilai tolol, tidak membuang-dan efektif buang waktu; sementara usaha-usaha untuk menciptakan sebuah hidup individu pada level terekstrim dan beroposisi dengan moralitas masyarakat juga dinilai sebagai sebuah Semua kuno. Individualisme dinilai sebagai sebuah usaha yang sia-sia, sementara mereka sendiri kembali pada hidup mereka yang dapat menyenangkan hati semua otoritas.

Sarkastik mereka meruntuhkan seluruh ide insurgensi, bahkan yang paling signifikan sekalipun, juga termasuk sejarah-sejarah lampau soal insurgensi; sementara di saat yang sama mereka mempromosikan eklektisme liberal yang menyedihkan yang kadang juga merayakan seni-seni kontemporer memalukan sebagai sesuatu yang 'revolusioner' atau 'ikonoklastik'. Pada intinya, para yuppies tersebut—yang seringkali mengklaim hanya umumnya nilai—pada segala menolak Dirinya mempromosikan dirinya sendiri dan proyek-proyek menyedihkan mereka. Kita hanya perlu memperhatikan bahwa band xAnjingtanahx yang sinistik sebenarnya adalah band Seringai dengan dandanan a la skate-boarder/thrasher dan musik yang lebih keras. Sesuatu yang tak pernah diperhatikan oleh para anggota barisan pengikut isme xAnjingtanahx yang bermunculan di berbagai kota di sepanjang Indonesia. Para seniman avant-garde juga tak ubahnya Bill Gates yang pintar melukis atau bermain teater.

Mungkin efek terburuk dari penetrasi posmodern ke dalam lingkar revolusioner ini adalah dorongan atau kecenderungan memahami untuk usaha Seluruh teori. menolak untuk seluruh dengan berjalan ini saat masyarakat bagaimana totalitasnya agar dapat mencari cara paling efektif untuk menghancurkannya, disebut sebagai sesuatu yang ketinggalan jaman, dogmatis, ataupun kaum naif yang tak punya harapan dari kompleksitas masya-rakat pos-industrial 'posmodern'. Tentu saja, tesis 'pema-haman yang sangat bijak' anti-teoris ini tak lebih dari sebuah sikap ketidakmampuan mereka untuk menga-nalisa dan memahami apa yang sedang terjadi, sebuah sikap yang membenarkan mereka untuk melanjutkan ritual aktifisme harian mereka yang sejak jauh-jauh hari telah terbukti tak membawa mereka semua kemana-mana. Sementara mereka yang terus melanjutkan pemahaman akan teori-teori insurgensi juga dikritisi sebagai para aktifis yang hanya duduk di menara gading, tak peduli seberapa banyak konsep mereka pada akhirnya juga diaplikasikan dalam praktek nyata.

Saat seseorang mau memperhatikan sinisme yang berkembang di era Yunani Kuno, seharusnya seseorang tersebut juga mampu untuk mencari esensi dan signifikansinya dalam kehidupan modern. Sementara sisnisme dewasa ini tak ubahnya seperti anjing domestik yang sering kita lihat di rumah tetangga kita: menyedihkan, tergantung pada sang majikan, terdomestikasi. Seperti juga anjing yang penurut, mereka hanya berani berlari di halaman rumah sang majikan menyalak, lantas kembali berlari mencari perlindungan sang majikan. Anjing tersebut juga biasanya meyalak pada setiap melihat anjing-anjing liar yang hidup di luar pagar domestik, ia juga mau menjilati tangan sang majikan demi mendapatkan sepiring susu.

Kami memilih untuk tetap berada di antara para anjing liar, menggonggongi setiap orang yang berusaha menjadi majikannya, siap menggigit setiap tangan yang secara sembarangan berani menyentuh dirinya. Kami menolak untuk sarkastisme frustatik yang menjalari sinisme moder, demi usaha kami merengkuh dan menjadikannya senjata sinisme kuno yang berani berkata pada penguasa: “Engkau berdiri menghalangi sinar matahariku. Sekarang minggir!”
(Jurnal Anarki 5)

Label:

Beranda | Kami | Event | Toko | Kontak
Rekomendasi Bulan Ini
filosofikopi (25K)Ishmael (Freshbook/2007)
Ya, buku yang bebas digandakan sepanjang untuk kepentingan non-komersil ini, adalah pintu pencerahan terhadap bagaimana melihat posisi kita hari ini. Mengajak melupakan kepalsuan, mencemooh peradaban--apa yang kita anggap sangat mulia. Ishmael, seekor gorilla sekaligus Guru membuka pikiran seorang muridnya tentang mengapa dunia ini menjadi berada dalam titik nadir.
Rate : * * * *
10000 (48K)Decoding Advertisment (Jalasutra/2007)
Bahwa iklan adalah ujung tombak kapitalisme lanjut, kita semua semestinya tahu. Iklan berperan penting membentuk sudut pandang baru tentang bagaimana kita memandang hidup. Tapi bagaimana iklan beroperasi, menawarkan ideologi dan sukses meremajakan kapitalisme, nampaknya mesti terus menerus didedah untuk menghancurkan salah satu instrumen kapitalisme paling digdaya era ini.
Rate : * * *
hoi ! teman-teman, silahkan mengirim rekomendasi film, CD, buku, situs, atau tempat2 ajaib yang menurutmu layak untuk dinikmati. Bagusnya kalo menyertakan sampel agar kita bisa sama-sama menikmati

Partisipan
  • Agang Cia
  • Alfonso
  • Dedy Degoode
  • Irsyanomics
  • joshepira
  • Judas Isgoriat
  • Fuhrer
  • Lunar sea
  • Moorie
  • Sisipush
  • Uravnilovka
  • bahar Dg.lontang
  • Jejaring
  • Affinitas
  • Amorfati
  • Apokalips
  • Dipepi Free Food Gang
  • Food Not Bombs Makassar
  • Green Student Movement
  • Indymedia Jakarta
  • Ininnawa
  • Jalasutra
  • Jaringan Otonomis
  • Katalis
  • Kerahputih
  • Kinoki
  • Kontinum
  • Marjin Kiri
  • Pustaka Otonomis
  • Resist Book
  • RuangAsa RumahKata
  • Tanah Merah
  • Ultimus Bandung
  • Walhi Sulsel
  • Jejak
  • Inuyasha Mengkritik ‘Bunuh Diri Kelas’
  • BERBAHAYANYA IDEOLOGI KIRI
  • PERKAWINAN DAN CINTA
  • KAPALNYA ORANG-ORANG TOLOL
  • KEMISKINAN KEHIDUPAN SEKSUAL
  • SUBLIMASI PARODI RUTINITAS
  • GONGGONGAN ANJING LIAR
  • K. I. T. A.
  • Reaksi atas diam
  • DONGENG SISIFUS DAN KEHIDUPAN MASYARAKAT MODERN
  • Arsip
  • Juli 2007
  • Januari 2008
  • Februari 2008
  • Maret 2008
  • April 2008
  • Mei 2008
  • Juni 2008
  • Juli 2008
  • Desember 2008
  • Maret 2009
  • Juni 2009

  • halaman rumah (versi 2.1) ini direkonstruksi maret 08 anticopyright uravnilovka